bytedaily - Melansir laporan dari ekonomi.republika.co.id, pertumbuhan ekonomi Thailand pada kuartal II 2026 tercatat melambat menjadi 1,9 persen secara tahunan (year on year/yoy), turun dari 2,8 persen pada kuartal sebelumnya. Perlambatan ini terutama disebabkan oleh tekanan pada konsumsi rumah tangga yang dipicu oleh tingginya utang masyarakat dan biaya hidup yang membatasi pengeluaran.
Kepala National Economic and Social Development Council (NESDC) Thailand, Danucha Pichayanan, menyatakan bahwa meskipun kinerja ekonomi pada kuartal II dipengaruhi oleh konflik di Timur Tengah, perekonomian diperkirakan akan menguat pada kuartal III. Pertumbuhan sebesar 1,9 persen ini masih melampaui perkiraan pasar yang sebesar 1,7 persen, namun menunjukkan kontraksi sebesar 0,2 persen secara kuartalan dengan penyesuaian musiman.
Selain konsumsi rumah tangga, investasi pemerintah juga mengalami penurunan. Namun, investasi swasta masih memberikan kontribusi positif dengan pertumbuhan 13,4 persen pada kuartal II, didukung oleh peningkatan ekspor barang. Meskipun demikian, penguatan di sektor-sektor tersebut belum mampu mengangkat pertumbuhan ekonomi Thailand secara signifikan.
Menanggapi kondisi ini, Thailand telah merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2026 menjadi 2-2,5 persen, dari proyeksi sebelumnya yang berada di kisaran 1,5-2,5 persen.