bytedaily - Melansir dari ekonomi.republika.co.id, PT Phapros Tbk telah merancang berbagai strategi untuk menghadapi lonjakan harga bahan baku obat yang dipicu oleh kondisi geopolitik global dan pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat. Direktur Keuangan, Manajemen Risiko dan SDM PT Phapros, Ferdinand Troedu, menyatakan bahwa dampak ini tidak hanya dirasakan oleh sektor farmasi, melainkan hampir seluruh lini industri.
Ferdinand Troedu menjelaskan bahwa Phapros telah mengidentifikasi dampak tersebut, terutama karena sebagian besar bahan baku obat perusahaan masih berasal dari impor. Ia merinci bahwa bahan baku impor terbagi menjadi dua jenis, yaitu yang diimpor secara langsung dan tidak langsung, di mana keduanya mengalami kenaikan harga.
Untuk mengatasi tantangan ini, Phapros mengambil beberapa langkah. Salah satu upaya langsung adalah melakukan negosiasi ulang atau reprofiling dengan para pemasok bahan baku. Menurut Ferdinand Troedu, negosiasi harga dapat dilakukan melalui skema kontrak jangka panjang atau dengan meningkatkan volume pemesanan.
Selain itu, perusahaan juga berupaya mencari pemasok alternatif guna menciptakan daya tawar yang lebih baik. Langkah ketiga yang diambil adalah melakukan efisiensi dalam proses produksi. Ferdinand Troedu menegaskan bahwa efisiensi ini tidak berarti pengurangan volume produksi, melainkan fokus pada upaya menekan biaya operasional melalui proses yang lebih efektif.
Sementara itu, Direktur Produksi PT Phapros, Ida Rahmi Kurniasih, menambahkan bahwa kebijakan yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan turut memberikan dukungan bagi industri farmasi dalam menghadapi situasi global saat ini.