bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Pontjo Sutowo kembali menarik perhatian publik setelah Hotel Sultan yang berlokasi di Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, resmi dikosongkan pada Kamis, 18 Juni. Pengosongan ini menandai akhir dari sengketa panjang antara negara dan PT Indobuildco, perusahaan yang dimiliki Pontjo, terkait pengelolaan lahan Hotel Sultan yang telah berlangsung sejak awal tahun 2000-an.
Perselisihan ini berawal dari perbedaan penafsiran mengenai status hak atas lahan Hotel Sultan. PT Indobuildco mengklaim telah memperpanjang Hak Guna Bangunan (HGB) yang berakhir pada tahun 2003, sedangkan pemerintah berpegang pada Hak Pengelolaan Lahan (HPL) yang dimiliki oleh negara melalui Sekretariat Negara.
Konflik ini bahkan sempat dibawa ke ranah hukum oleh Pontjo pada tahun 2006, dengan menggugat beberapa pihak, termasuk Badan Pertanahan Nasional (BPN), Menteri Sekretaris Negara, dan Kantor Pertanahan Jakarta Pusat.
Pontjo Sutowo adalah Presiden Direktur PT Indobuildco, yang selama ini mengelola Hotel Sultan. Ia merupakan anak dari mendiang Ibnu Sutowo, seorang tokoh militer dan mantan petinggi Pertamina yang mendirikan perusahaan tersebut. Pontjo lahir di Palembang pada 17 Agustus 1950, sebagai anak keempat dari tujuh bersaudara pasangan Ibnu Sutowo dan Zaleha.
Ketika kecil, Pontjo mengikuti keluarganya pindah ke Jakarta. Masa mudanya berlalu saat karier ayahnya terus meningkat, menjadikannya salah satu sosok berpengaruh di sektor minyak dan gas Indonesia pada era Orde Baru. Ia sempat menempuh pendidikan di Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan teknik mesin, namun tidak menyelesaikannya dan memilih untuk terjun ke dunia bisnis.
Karier bisnisnya dimulai pada awal 1970-an dengan mendirikan PT Adiguna Shipyard bersama kakaknya, Adiguna Sutowo, yang bergerak di bidang galangan kapal. Usaha ini menjadi salah satu pondasi bisnis keluarga Sutowo di luar sektor energi.
Pontjo mulai terkait erat dengan Hotel Sultan pada awal 1980-an, saat hotel yang sebelumnya dikenal sebagai Jakarta Hilton International menghadapi berbagai tantangan operasional. Pada tahun 1982, ia mengambil alih kepemimpinan PT Indobuildco dan mulai mengelola bisnis perhotelan keluarga tersebut. Sejak itu, ia menjadi sosok sentral dalam operasional Hotel Sultan.
Pengalamannya di sektor pariwisata juga membawanya aktif dalam berbagai organisasi industri. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Umum Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) dari tahun 1989 hingga 2001, serta aktif dalam organisasi bisnis dan kemasyarakatan, termasuk menjadi pemimpin Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) dan kini menjabat sebagai Ketua Umum Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan dan Putra-Putri TNI/Polri (FKPPI).
Walaupun tidak terlibat langsung dalam pembangunan Hotel Sultan pada awal 1970-an, Pontjo menjadi sosok yang paling dikenal terkait hotel tersebut selama lebih dari empat dekade. Di bawah kepemimpinannya, PT Indobuildco berupaya mempertahankan klaim atas lahan Hotel Sultan yang terletak di kawasan GBK. Sengketa mengenai status hak atas lahan itu terus berlanjut sejak awal tahun 2000-an dan berujung pada sejumlah proses hukum.
Setelah berbagai keputusan pengadilan yang menguntungkan pihak negara, Hotel Sultan akhirnya dikosongkan pada tanggal 18 Juni. Peristiwa ini menandai berakhirnya penguasaan PT Indobuildco atas aset yang selama ini menjadi simbol bisnis mereka.