bytedaily
Sabtu, 29 Agustus 2026 - 01:04 WIB

Prabowo Dorong Inovasi Teknologi Mitigasi Bencana untuk Indonesia yang Rentan

Redaksi 29 Agustus 2026 3 views
Prabowo Dorong Inovasi Teknologi Mitigasi Bencana untuk Indonesia yang Rentan
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Presiden Prabowo Subianto menekankan pentingnya terobosan teknologi dalam upaya mitigasi bencana di Indonesia. Hal ini disampaikan mengingat posisi geografis Indonesia yang berada di Cincin Api Pasifik, menjadikannya rawan terhadap gempa bumi besar dan bencana alam lainnya.

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, menjelaskan bahwa Presiden Prabowo menyampaikan hal tersebut saat bertemu dengan para penerima Nobel di Istana Kepresidenan, Jakarta. Menurut Arif, Presiden Prabowo menyatakan bahwa Indonesia memerlukan kajian mendalam serta inovasi teknologi untuk mengatasi, mengantisipasi, dan memberikan solusi terhadap potensi bencana.

Arif Satria menambahkan bahwa BRIN telah mempresentasikan sejumlah inovasi yang dikembangkan, termasuk rumah modular tahan gempa. Tiga unit rumah prototipe yang dikembangkan BRIN terbukti tidak rusak meskipun diguncang gempa berkekuatan M7,7 di Nusa Tenggara Timur beberapa waktu lalu. Inovasi ini merupakan bagian dari pengembangan teknologi konstruksi tahan gempa yang dilakukan BRIN pada periode 2021-2022.

Saat ini, BRIN sedang berupaya mencari mitra strategis untuk memungkinkan produksi massal rumah tahan gempa tersebut. Arif menjelaskan bahwa BRIN tidak memiliki kewenangan untuk memproduksi secara massal, sehingga kolaborasi dengan mitra sangat diperlukan agar rumah tahan gempa dapat diproduksi dalam jumlah besar dan dengan biaya yang lebih terjangkau, mengingat pentingnya teknologi ini bagi daerah rawan gempa.

Selain mitigasi bencana gempa, Presiden Prabowo juga meminta BRIN untuk mengembangkan inovasi teknologi guna mengatasi masalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sebelumnya, Indonesia telah rutin melakukan modifikasi cuaca untuk menangani kekeringan dan karhutla.

Arif Satria juga menginformasikan bahwa BRIN telah menempatkan 50 peneliti untuk memperkuat Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam pengembangan teknologi modifikasi cuaca. Para peneliti ini bertugas untuk riset material dan teknologi dasar, sementara BMKG fokus pada pengembangan aplikasi dan pemantauan di lapangan.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.