bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Presiden Prabowo Subianto memberikan penjelasan mengenai alasannya teguh mempertahankan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di tengah berbagai kritik yang dilayangkan terhadapnya. Salah satu sorotan tersebut datang dari media internasional The Economist melalui artikel berjudul "Archipelagoing fast" yang diterbitkan pada 16 Mei 2026 dan menjadi perbincangan hangat di media sosial.
Menurut Prabowo, ia merasa heran melihat kemudahan sebagian pihak dalam mengkritik program MBG. Ia menekankan bahwa program ini merupakan upaya pemerintah untuk mengatasi masalah mendasar di Indonesia, yaitu tingginya angka stunting pada anak akibat kekurangan gizi. "Sulit bagi saya mengabaikan fakta bahwa satu dari lima anak Indonesia mengalami stunting akibat kekurangan gizi," ungkapnya.
Selain masalah stunting, Prabowo juga menyoroti masih banyaknya ibu hamil dan balita yang belum mendapatkan asupan gizi memadai. "Juga fakta bahwa jutaan ibu hamil dan balita tidak memperoleh asupan gizi yang memadai pada masa paling penting dalam perkembangan manusia," tambahnya.
Lebih lanjut, Prabowo membantah anggapan bahwa MBG adalah program yang tidak lazim, dengan merujuk pada penerapannya di berbagai negara. "Lebih dari 100 negara di dunia menjalankan program bantuan gizi atau makan sekolah dalam berbagai bentuk," jelasnya. Ia menegaskan bahwa Indonesia tidak sedang menjalankan sesuatu yang radikal atau tidak lazim, melainkan berupaya menyelesaikan persoalan yang berdampak langsung pada masa depan bangsa. "Kami sedang mengatasi tantangan nasional yang secara langsung memengaruhi kesehatan, produktivitas, dan daya saing rakyat di masa depan," pungkasnya.