bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Presiden Prabowo Subianto memberikan tanggapannya terhadap kritik yang dilayangkan media asing terkait kondisi perekonomian Indonesia. Menurutnya, segala bentuk kritik tersebut akan dijadikan sebagai masukan berharga untuk perbaikan pemerintahan.
Kritik terhadap ekonomi Indonesia sebelumnya muncul dalam sebuah artikel The Economist yang berjudul "Archipelagoing Fast" pada 16 Mei lalu, yang kemudian menjadi topik perbincangan hangat di media sosial.
Prabowo mengutip The Economist, menyatakan bahwa kritik merupakan bagian tak terhindarkan dari kehidupan publik. Ia menambahkan bahwa setelah puluhan tahun berkarier di militer, kehidupan publik, dan politik, ia semakin memahami pentingnya ungkapan tersebut. Menurutnya, kritik tidak hanya sehat dalam sistem demokrasi, tetapi juga esensial.
"Saya selalu membiasakan diri untuk mencermati setiap kritik yang ditujukan kepada pemerintahan saya dan menilainya berdasarkan fakta, hasil yang dicapai, serta realitas yang dihadapi masyarakat," ujar Prabowo.
Ia juga menegaskan keyakinannya pada sistem demokrasi, meskipun mengakui ketidaksempurnaannya, ia tetap menganggapnya sebagai sistem terbaik yang ada saat ini. Prabowo mengingatkan pengalamannya mengikuti lima kali pemilihan presiden sejak 2004 sebelum akhirnya terpilih pada Pilpres 2024, yang mengajarkan bahwa legitimasi demokrasi diraih melalui kesabaran, kepercayaan publik, dan penghormatan terhadap kehendak rakyat.
Presiden menekankan bahwa tanggung jawab pemerintah adalah untuk seluruh rakyat Indonesia, tidak hanya mereka yang memberikan suara dalam Pilpres 2024. "Kami harus bekerja untuk masa depan bersama dan menjalankan program yang menjadi dasar kemenangan kami dalam pemilu, sebagaimana seharusnya dilakukan setiap pemerintahan demokratis," pungkasnya.
Terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu sorotan, Prabowo menolak anggapan bahwa kebijakan tersebut radikal. Ia menjelaskan bahwa lebih dari 100 negara telah menerapkan program serupa dalam bentuk bantuan gizi atau makan sekolah. "Indonesia tidak sedang menjalankan sesuatu yang radikal atau tidak lazim. Kami sedang mengatasi tantangan nasional yang secara langsung memengaruhi kesehatan, produktivitas, dan daya saing rakyat di masa depan," jelasnya.
Selain MBG, Prabowo memaparkan berbagai program prioritas lainnya, termasuk peningkatan kualitas rumah sakit, pemeriksaan kesehatan gratis, revitalisasi sekolah, pembangunan Sekolah Rakyat bagi keluarga miskin, dan pembentukan Danantara. "Kami telah berjanji kepada rakyat Indonesia untuk menjalankan program-program tersebut dan kami bekerja keras untuk menunaikan janji itu," imbuhnya.
Mengenai kondisi perekonomian, Prabowo menyatakan bahwa Indonesia berada dalam posisi yang baik di antara negara-negara G20, meskipun menghadapi berbagai tantangan. Defisit anggaran berhasil dijaga di bawah 3 persen terhadap PDB, dan rasio utang terhadap PDB masih lebih rendah dibandingkan banyak negara maju. Pemerintah juga telah melakukan efisiensi belanja lebih dari Rp300 triliun, memperkuat digitalisasi perpajakan, memperbaiki tata kelola ekspor, serta memperketat pengawasan terhadap praktik penyelundupan.
Lebih lanjut, Prabowo menambahkan bahwa pemerintahannya terus berupaya melakukan investasi untuk memperkuat kedaulatan dan ketahanan Indonesia dalam jangka panjang.