bytedaily
Minggu, 05 Juli 2026 - 03:31 WIB

Prediksi Harga Emas Pekan Depan: Potensi Penguatan Dipengaruhi Perdamaian Iran-AS

Redaksi 15 Juni 2026 11 views
Prediksi Harga Emas Pekan Depan: Potensi Penguatan Dipengaruhi Perdamaian Iran-AS
Ilustrasi visual (Sumber referensi: ekonomi.republika.co.id)

bytedaily - Melansir laporan dari ekonomi.republika.co.id, harga emas diprediksi akan bergerak dalam rentang Rp 2,5 juta hingga Rp 2,88 juta per gram pada pekan mendatang. Pergerakan ini dipengaruhi oleh meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Pada penutupan perdagangan pekan ini, harga emas dunia tercatat berada di level 4.209 dolar AS per troy ons, dengan harga di pasar domestik mencapai Rp 2,71 juta per gram. Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan level support pertama untuk harga emas dunia jika terjadi koreksi adalah 4.058 dolar AS per troy ons, yang setara dengan Rp 2,61 juta per gram. Jika koreksi berlanjut, support kedua berada di 3.929 dolar AS per troy ons atau Rp 2,5 juta per gram.

Sementara itu, jika harga emas dunia menguat, level resistance pertama diprediksi mencapai 4.394 dolar AS per troy ons, atau Rp 2,74 juta per gram. Penguatan lebih lanjut dapat mendorong harga ke level resistance kedua di 4.571 dolar AS per troy ons, atau Rp 2,88 juta per gram.

Ibrahim juga memproyeksikan indeks dolar AS pada pekan depan akan berada di antara level support 99,10 dan resistance 100,70. Untuk harga minyak mentah, diprediksi akan mengalami koreksi dengan level support di 77,40 dolar AS per barel, sementara level resistance berada di 94,60 dolar AS per barel jika terjadi kenaikan.

Faktor fundamental yang memengaruhi fluktuasi harga komoditas ini adalah isu geopolitik dan kebijakan bank sentral Amerika Serikat. Terkait geopolitik, Presiden AS Donald Trump mengindikasikan adanya potensi kesepakatan damai dengan Iran yang dijadwalkan ditandatangani dalam waktu dekat, termasuk pembukaan kembali Selat Hormuz dan pencairan dana Iran yang dibekukan.

Meskipun ada potensi kesepakatan, Ibrahim mengingatkan bahwa perjanjian tersebut bisa saja hanya di atas kertas dan masih ada kemungkinan perlawanan. Namun, indikasi perdamaian ini cenderung menekan harga minyak dan menguatkan indeks dolar, yang pada gilirannya dapat mendorong kenaikan harga emas.

Lebih lanjut, Ibrahim menjelaskan bahwa jika perdamaian antara AS dan Iran benar-benar terwujud dan Selat Hormuz dibuka, investor kemungkinan akan mengalihkan investasinya dari dolar AS ke logam mulia sebagai aset aman (safe haven).


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media ekonomi.republika.co.id menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.