bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Pure International, sebuah anak perusahaan Pure Consulting, menyoroti besarnya peluang bagi investor Indonesia untuk menjajaki kerja sama bisnis di Arab Saudi. Potensi ini muncul seiring dengan transformasi ekonomi Arab Saudi di bawah program Vision 2030, yang bertujuan mendiversifikasi negara tersebut dari ketergantungan pada sektor energi.
Pure International melakukan misi penjajakan investasi ke Indonesia untuk memperkuat hubungan strategis dan mendorong kolaborasi bisnis. Perusahaan ini berupaya meningkatkan pemahaman global mengenai transformasi ekonomi dan peluang investasi yang terus berkembang di Arab Saudi, serta memperkenalkan berbagai sektor yang menjanjikan.
CEO Pure Consulting, Khalid AlShakhshir, menyatakan bahwa hubungan historis antara Arab Saudi dan Indonesia yang didasari oleh kesamaan agama, budaya, dan sejarah menjadi fondasi kuat untuk memperluas kerja sama ekonomi. Ia menekankan bahwa Arab Saudi kini tidak hanya menjadi destinasi spiritual, tetapi juga bertransformasi menjadi ekonomi yang terdiversifikasi, tumbuh pesat, dan sangat bergantung pada investasi.
Misi ini juga menyoroti pentingnya penguatan hubungan antar pelaku usaha dari kedua negara yang memiliki ekonomi besar untuk mendorong pertumbuhan bersama yang saling menguntungkan. Peluang kerja sama antara Indonesia dan Arab Saudi telah terbukti sebelumnya, dengan kehadiran perusahaan seperti Indofood yang memproduksi Indomie di Jeddah sejak 1992 dan mendistribusikannya ke seluruh Timur Tengah.
Selain itu, masyarakat Indonesia memainkan peran krusial dalam penyelenggaraan ibadah Haji dan Umrah, menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara asal jamaah terbesar. Perusahaan Indonesia juga telah berinvestasi di sektor ini, seperti akuisisi Hotel Novotel Makkah Thakher oleh Danantara pada tahun 2025. Arab Saudi terus berkembang melampaui peran tradisionalnya sebagai pilar ekonomi energi, dengan sektor non-migas diproyeksikan menyumbang 55% terhadap PDB pada 2025.
Pertumbuhan ekonomi Arab Saudi didukung oleh kebijakan yang pro-bisnis, termasuk penyederhanaan perizinan, perluasan layanan digital, dan kebijakan kepemilikan asing hingga 100% di berbagai sektor. Khalid AlShakhshir menambahkan bahwa masyarakat Arab Saudi memiliki daya beli tinggi, didominasi generasi muda yang akrab dengan teknologi digital. Infrastruktur digital yang maju dan posisi geografis strategis Arab Saudi sebagai pusat konektivitas antara Eropa, Asia, dan Afrika semakin memperkuat keunggulannya, didukung oleh pengembangan kawasan industri dan infrastruktur utama.