bytedaily
Sabtu, 04 Juli 2026 - 22:37 WIB

Rupiah dan IHSG Menguat Didorong Kesepakatan AS-Iran dan Kebijakan BI

Redaksi 16 Juni 2026 11 views
Rupiah dan IHSG Menguat Didorong Kesepakatan AS-Iran dan Kebijakan BI
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, pada perdagangan Senin (15/6), nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat menguat setelah sebelumnya mengalami tekanan akibat ketidakpastian global.

IHSG berhasil melonjak 180,52 poin atau 3 persen, mencapai level 6.188 pada awal perdagangan. Pergerakan ini ditandai dengan 519 saham yang menguat, 84 saham melemah, dan 104 saham stagnan.

Sementara itu, mata uang rupiah menguat sebesar 100 poin atau 0,56 persen, diperdagangkan pada Rp17.760 per dolar AS.

Menurut Pengamat Pasar Keuangan Ibrahim Assuaibi, penguatan rupiah dan IHSG ini dipicu oleh sentimen positif dari tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Nota kesepahaman (MOU) dijadwalkan akan ditandatangani di Swiss pada Jumat (19/6).

Ibrahim menjelaskan bahwa salah satu poin penting dalam draf perjanjian damai tersebut adalah pembukaan Selat Hormuz. Hal ini diperkirakan akan berdampak pada penurunan harga minyak dunia.

Sebagai dampaknya, harga minyak mentah berjangka Brent dilaporkan turun US$3,58 atau 4,1 persen menjadi $83,75 per barel, dan harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) turun US$4,01 atau 4,72 persen menjadi $80,87.

"Iran itu membuka pemblokiran di Selat Hormuz sehingga membuat harga minyak itu turun. Artinya apa? Bahwa pada saat dolar (AS) menguat kemudian harga minyak turun, ini berdampak positif terhadap rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)," ujar Ibrahim.

Ia menambahkan bahwa penguatan IHSG sejalan dengan indeks saham di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Eropa, dan Asia, yang juga mengalami kenaikan.

Ibrahim menilai pembukaan Selat Hormuz sebagai langkah awal yang positif untuk penguatan rupiah dan IHSG. Ia menyoroti bahwa salah satu tantangan Indonesia adalah ketergantungan pada impor minyak bumi yang mencapai sekitar 1,5 juta barel per hari.

Dengan asumsi harga minyak dunia dalam APBN 2026 sebesar US$70 per barel, penurunan harga minyak di bawah angka tersebut akan mengindikasikan penguatan rupiah yang berkelanjutan.

Sementara itu, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, berpendapat bahwa kebangkitan rupiah dan IHSG merupakan hasil dari kombinasi faktor global dan domestik yang mengubah sentimen pasar secara cepat.

Dari sisi domestik, Yusuf menyebutkan kebijakan Bank Indonesia (BI) dalam menaikkan suku bunga acuan BI Rate menjadi 5,5 persen turut memberikan dukungan. Kebijakan ini dinilai mampu menjaga daya tarik aset rupiah di tengah ketidakpastian global.

"Meredanya risiko geopolitik menjadi pemicu awal, sementara kebijakan moneter yang lebih ketat menjadi faktor yang memperkuat kepercayaan investor," ungkap Yusuf.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.