bytedaily - Melansir laporan cnnindonesia.com, CEO OpenAI Sam Altman berpendapat masyarakat perlu menerima adanya sejumlah dampak negatif kecerdasan buatan (AI) agar dapat memperoleh manfaat dari teknologi tersebut. Ia menyampaikan pandangan itu dalam wawancara di podcast Decoded, saat membahas perbedaan pendekatan keselamatan AI antara OpenAI dan pesaingnya, Anthropic.
Altman mengatakan, pendekatan OpenAI berbeda dari pihak yang menerapkan standar keselamatan lebih ketat. Menurutnya, sebagian dampak buruk perlu diterima agar masyarakat dapat menggunakan AI secara luas dan merasakan manfaatnya.
Ia menyebut peretasan, penipuan, dan penyalahgunaan lainnya sebagai risiko yang harus ditoleransi. Altman menilai manfaat AI bagi manusia akan lebih besar daripada dampak negatifnya. Ia juga menyebut pendekatan regulasi yang lebih fleksibel mengharuskan masyarakat menerima bahwa dampak buruk masih mungkin terjadi selama dunia membangun ketahanan terhadap perkembangan AI.
Pernyataan tersebut menuai kritik. Gubernur Florida Ron DeSantis menyatakan tidak setuju jika segelintir pemimpin perusahaan teknologi menentukan kebijakan keselamatan bagi masyarakat. Pemerintah Florida juga meminta hakim melarang OpenAI mengembangkan model AI baru sebelum ada batasan keselamatan yang disetujui pihak ketiga.
Gary Marcus, profesor emeritus di New York University, menilai pernyataan Altman secara tidak langsung meminta masyarakat menerima meningkatnya kekayaan dan kekuasaan para pengusaha teknologi.
Perhatian terhadap keselamatan AI meningkat setelah Jacob Coxon, mantan ilmuwan Anthropic dan OpenAI, bersaksi bahwa teknologi tersebut dapat memusnahkan umat manusia. Kekhawatiran serupa kemudian disampaikan sejumlah karyawan dan mantan karyawan perusahaan AI besar. Altman dan CEO Anthropic Dario Amodei juga menyerukan penghentian sementara laju pengembangan AI, tetapi usulan itu ditolak Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Trump menyebut peringatan para pakar tentang AI yang dapat memusnahkan umat manusia dan menghancurkan dunia sebagai hoaks.