bytedaily
Sabtu, 04 Juli 2026 - 18:21 WIB

Serikat Pekerja Waspadai PHK Masif Akibat Tekanan Ekonomi Global dan Domestik

Redaksi 18 Juni 2026 9 views
Serikat Pekerja Waspadai PHK Masif Akibat Tekanan Ekonomi Global dan Domestik
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, serikat pekerja mengindikasikan bahwa gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) masih berlanjut di berbagai sektor industri. Kondisi ini dipicu oleh tekanan ekonomi global yang diperparah oleh konflik Timur Tengah yang berkepanjangan serta pelemahan ekonomi di dalam negeri.

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Nasional (KSPN), Ristadi, menyatakan bahwa mayoritas industri di Indonesia saat ini menghadapi tekanan, terutama perusahaan yang mengandalkan bahan baku impor. Kenaikan biaya produksi akibat gejolak global dinilai tidak sebanding dengan peningkatan permintaan pasar. Sejumlah perusahaan bahkan mengalami penurunan pesanan baik dari pasar domestik maupun ekspor.

Menurut Ristadi, tekanan tersebut menyebabkan rendahnya tingkat utilisasi industri. Di sektor padat karya, utilisasi produksi hanya mencapai sekitar 40 persen, sementara industri tekstil dilaporkan berada di kisaran 30 persen. Perusahaan berupaya bertahan sambil menanti meredanya gejolak global, termasuk dampak perang di Timur Tengah terhadap harga komoditas dan bahan baku.

Meskipun belum terjadi PHK berskala besar, Ristadi mengungkapkan bahwa banyak perusahaan melakukan pengurangan tenaga kerja secara bertahap dan tertutup. PHK kini lebih banyak dilakukan melalui tidak diperpanjangnya kontrak, pengurangan jumlah pekerja secara kecil-kecilan, atau mendorong pekerja untuk mengundurkan diri secara sukarela. Fenomena ini terjadi di berbagai sektor industri yang bergantung pada impor bahan baku atau menghadapi penurunan permintaan pasar domestik.

Presiden Asosiasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (ASPEK Indonesia), Mirah Sumirat, menambahkan bahwa konflik Timur Tengah memberikan tekanan tambahan bagi dunia usaha, namun bukan satu-satunya penyebab risiko PHK. Dampak konflik global terasa melalui kenaikan biaya energi, gangguan rantai pasok, dan melemahnya daya beli masyarakat.

Mirah menegaskan bahwa PHK tidak semata-mata disebabkan oleh perang di Timur Tengah. Perlambatan ekonomi global, efisiensi perusahaan, perubahan teknologi, dan pelemahan permintaan pasar juga berkontribusi terhadap pengurangan tenaga kerja. Sektor yang paling rentan terdampak meliputi industri padat karya seperti tekstil dan produk tekstil (TPT), garmen, alas kaki, furnitur, serta sektor manufaktur berorientasi ekspor. Sektor perdagangan dan industri pendukung juga merasakan tekanan akibat menurunnya daya beli masyarakat.

PHK dilaporkan masih banyak ditemukan di kawasan industri besar seperti Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, dan sebagian wilayah Jawa Timur.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.