bytedaily
Jumat, 03 Juli 2026 - 09:59 WIB

Suhu Tertinggi di Indonesia Capai 38,6 Derajat Celsius di Tengah Perluasan Musim Kemarau

Redaksi 29 Juni 2026 7 views
Suhu Tertinggi di Indonesia Capai 38,6 Derajat Celsius di Tengah Perluasan Musim Kemarau
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat suhu udara maksimum di Indonesia mencapai 38,6 derajat Celsius di wilayah Papua Barat. Suhu tertinggi ini terpantau di Stasiun Meteorologi Rendani, Manokwari, Papua Barat, pada 21 Juni 2026.

Saat ini, musim kemarau telah meluas ke 37,6 persen wilayah Indonesia atau sekitar 263 Zona Musim (ZOM). BMKG melaporkan bahwa pada periode 22-24 Juni 2026, suhu udara maksimum di beberapa daerah seperti Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara berada di kisaran 35-35,5 derajat Celsius.

Perluasan musim kemarau ini sejalan dengan dinamika atmosfer global. Analisis BMKG pada 10 hari ketiga Juni 2026 menunjukkan anomali Suhu Permukaan Laut (SST) di region Nino 3.4 sebesar +1,61, yang mengindikasikan kondisi El Nino. Fenomena ini menjadi sinyal berkurangnya curah hujan di berbagai wilayah Indonesia.

BMKG memprakirakan curah hujan dengan kategori rendah, kurang dari 50 mm per dasarian, akan dialami sejumlah wilayah dalam beberapa hari ke depan. Penurunan curah hujan ini diprediksi meluas di Sumatra, Banten, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, hingga Papua.

Fenomena El Nino diperkirakan akan bertahan hingga awal 2027 dan berpotensi memperparah musim kemarau di Indonesia, menjadikannya lebih kering dan lebih panjang. BMKG memprediksi fenomena ini akan bertahan hingga awal tahun 2027 dengan peluang intensitas kategori moderat sebesar 98 persen dan kategori kuat sebesar 62 persen. Namun, dampak langsung di Indonesia diperkirakan hanya terjadi sepanjang musim kemarau hingga Oktober 2026.

Fenomena El Nino juga diprediksi akan mempengaruhi pola cuaca global, bahkan Biro Cuaca Australia memperingatkan bahwa El Nino yang terbentuk di Pasifik dapat meningkat menjadi salah satu yang terkuat dalam tujuh dekade pada paruh kedua 2026. Peristiwa cuaca yang lebih kuat ini diprakirakan membawa hujan berlebihan ke Amerika dan kondisi panas serta kering di Asia, yang berpotensi mengganggu pertanian dan pasokan makanan.

Para ilmuwan juga menyatakan bahwa perubahan iklim akan memperkuat efek El Nino tahun ini.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.