bytedaily
Kamis, 15 Oktober 2026 - 19:37 WIB

Super El Niño Berpotensi Memicu Kekeringan dan Kenaikan Harga Pangan

Redaksi 07 Oktober 2026 10 views
Super El Niño Berpotensi Memicu Kekeringan dan Kenaikan Harga Pangan
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, para peneliti memperkirakan El Niño tahun ini dapat menjadi salah satu yang terkuat dalam sejarah. Dampaknya bagi Indonesia berpotensi mencakup kemarau berkepanjangan, peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan, serta tekanan terhadap produksi pangan.

Mark Merrifield dari Scripps Institution of Oceanography mengatakan anomali suhu permukaan laut di Pasifik Khatulistiwa menunjukkan sinyal kuat menuju Super El Niño. Ia menyebut peluang fenomena tersebut menjadi peristiwa bersejarah pada Oktober–Desember 2026 mencapai 75 persen, dengan kekuatan yang melampaui rekor El Niño sejak 1950-an.

Indeks Niño 3.4, yang digunakan untuk mengukur kekuatan El Niño, saat ini mencatat anomali suhu permukaan laut positif 0,5 derajat Celsius. Nilainya diperkirakan meningkat hingga rata-rata positif 3 derajat Celsius pada Februari 2027.

Peneliti Senior Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN Erma Yulihastin mengatakan kajiannya bersama tim menyoroti risiko terhadap produksi padi dan meningkatnya tekanan panas. Pengukuran dengan indeks Wet Bulb Global Temperature (WGBT) juga menunjukkan Kalimantan dan Papua rentan terhadap panas serta potensi kebakaran hutan. Berdasarkan simulasi 14 model iklim NASA NEX-GDPP, ancaman kekeringan diperkirakan berlanjut hingga 2027–2028.

Dampak El Niño juga diperkirakan dapat terasa pada perekonomian melalui kenaikan inflasi. Djoko Santoso Abi Suroso dan Isnan Fauzi dari Institut Teknologi Bandung membandingkan pengaruh El Niño terhadap inflasi bergejolak dan menemukan potensi kenaikan harga pangan. Mereka menyebut Super El Niño hingga awal 2027 dapat menggeser jadwal tanam pada musim hujan 2026/2027, mengancam waktu panen, dan mengganggu pasokan, terutama beras.

Dengan membandingkan El Niño 2015–2016 dan 2023–2024, para peneliti tersebut menyimpulkan penurunan produktivitas lahan dapat menekan produksi padi dan mendorong kenaikan harga beras. BPS mencatat inflasi bulanan pada Agustus 2026 sebesar 0,21 persen, yang antara lain dipengaruhi kenaikan harga daging ayam, ikan, cabai, bawang, dan beras.

Studi para peneliti ITB juga menemukan bahwa inflasi bergejolak cenderung meningkat dalam rentang waktu berdekatan saat indeks Niño 3.4 mencapai puncak. Mereka menyatakan pola tersebut sejalan dengan riset internasional yang menunjukkan guncangan ENSO dapat menekan pertumbuhan ekonomi negara berkembang hingga 2 persen, dengan dampak dua kali lebih besar di wilayah tropis seperti Indonesia.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.