bytedaily
Selasa, 18 Agustus 2026 - 00:24 WIB

Survei Kaspersky: Pengguna macOS Lebih Rentan Terhadap Serangan Siber Dibandingkan Pengguna Windows

Redaksi 10 Agustus 2026 6 views
Survei Kaspersky: Pengguna macOS Lebih Rentan Terhadap Serangan Siber Dibandingkan Pengguna Windows
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, sebuah survei terbaru yang dilakukan oleh Kaspersky mengungkapkan bahwa pengguna sistem operasi macOS ternyata lebih sering menjadi sasaran berbagai insiden keamanan siber jika dibandingkan dengan pengguna Windows.

Temuan survei tersebut menunjukkan bahwa 12 persen pengguna macOS melaporkan pernah terinfeksi malware, angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan 9 persen pengguna Windows. Meskipun demikian, hanya 35 persen pengguna macOS yang menginstal perangkat lunak keamanan khusus, sementara pengguna Windows yang melakukan hal serupa mencapai 42 persen.

Kaspersky mencatat bahwa pengguna Windows secara umum cenderung menerapkan lebih banyak langkah-langkah keamanan. Namun, pengguna macOS sedikit lebih unggul dalam beberapa aspek terkait privasi. Perbedaan yang paling signifikan terlihat pada kebiasaan menghindari pembukaan email atau tautan yang mencurigakan. Sebanyak 62 persen pengguna Windows mengaku menerapkan kebiasaan ini, berbanding dengan 51 persen pengguna macOS.

Dalam hal penggunaan kata sandi, pengguna Windows juga lebih banyak menggunakan kata sandi unik untuk setiap akun, yakni 38 persen berbanding 35 persen pada pengguna macOS. Untuk penggunaan kata sandi yang kompleks, angka pengguna Windows mencapai 52 persen, sementara pada macOS tercatat 45 persen. Penggunaan otentikasi dua faktor atau multifaktor juga lebih tinggi pada pengguna Windows, yaitu 51 persen, dibandingkan 46 persen pada pengguna macOS.

Dalam kurun waktu satu tahun terakhir, 12 persen responden pengguna macOS melaporkan menjadi korban phishing melalui email, situs web, atau pesan palsu. Angka ini lebih rendah pada pengguna Windows, yaitu 9 persen. Pengguna macOS juga lebih banyak melaporkan menjadi korban penipuan umum dan investasi, dengan angka 16 persen berbanding 13 persen pada pengguna Windows. Pelanggaran privasi dilaporkan oleh 11 persen pengguna macOS, sementara pada pengguna Windows angkanya 8 persen. Selain itu, pencurian data pribadi dilaporkan oleh 12 persen pengguna macOS, dibandingkan dengan 7 persen pada pengguna Windows.

Pihak Kaspersky menjelaskan bahwa para penyerang terus mengembangkan berbagai jenis malware, termasuk pencuri data (stealer) dan spyware. Teknik phishing juga masih menjadi metode yang umum digunakan untuk memperoleh akses ke data pengguna.

Pakar keamanan siber Kaspersky, Sergey Puzan, menyoroti adanya persepsi yang masih berkembang bahwa macOS secara inheren lebih aman, baik karena jumlah penggunanya yang lebih sedikit maupun karena fitur keamanan bawaan yang dimilikinya. Namun, ia menegaskan bahwa lanskap ancaman siber telah mengalami perubahan.

"Ada stereotip yang mengakar bahwa macOS secara inheren lebih aman karena basis penggunanya lebih kecil," ujar Puzan dalam keterangan resmi. Ia menambahkan bahwa saat ini penyerang memanfaatkan teknik phishing dan serangan rantai pasok yang dapat menjangkau pengguna dari berbagai sistem operasi dalam satu kampanye.

Lebih lanjut, Puzan mengungkapkan bahwa terdapat berbagai keluarga malware yang secara spesifik menargetkan perangkat Mac. "Akibatnya, perangkat apa pun yang terhubung ke internet - terlepas dari sistem operasi atau bentuk fisiknya - memerlukan perangkat lunak keamanan siber untuk melindungi diri dari berbagai ancaman siber," tegasnya.

Survei Kaspersky ini dilakukan pada bulan Maret 2026 dengan melibatkan 7.200 responden dari 18 negara, termasuk Indonesia, serta negara-negara lain seperti Brasil, Tiongkok, Prancis, Jerman, India, Malaysia, Meksiko, Rusia, Arab Saudi, Thailand, Turki, dan Vietnam.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.