bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghubungi Jensen Huang, CEO Nvidia, saat sedang mengikuti wawancara dalam acara All‑In Summit yang disiarkan lewat YouTube pada Senin (15/9).
Dalam sesi tersebut, Huang membahas beragam topik terkait kecerdasan buatan (AI) serta implikasinya bagi masa depan industri teknologi.
Pertemuan tak terduga dengan Trump kemudian beralih pada isu perlambatan pengembangan AI. Trump menegaskan bahwa kekhawatiran berlebihan mengenai AI merupakan hoaks dan konspirasi, serta menekankan nilai strategis data center bagi perekonomian Amerika.
"Saya katakan semuanya hoaks. Data center itu penting, mereka menghasilkan kekayaan bagi orang dan negara, dan akan menjadi seperti minyak dalam 20‑25 tahun ke depan," ujar Trump dalam percakapan itu.
Trump menambahkan bahwa negara memperoleh manfaat sekitar US$20 triliun per tahun dari sektor tersebut, dan menegaskan komitmennya untuk terus mendukung perkembangan tanpa hambatan.
Jensen Huang menyetujui pandangan Trump tentang perlunya melanjutkan inovasi AI dan data center, serta menegaskan bahwa teknologi ini akan memberikan keuntungan bagi seluruh lapisan masyarakat Amerika.
Sebelumnya, dalam acara yang sama, Huang menanggapi pernyataan CEO Anthropic Dario Amodei dan mantan peneliti Jacob Coxon yang memperingatkan risiko AI, menyatakan bahwa argumen mereka tidak didukung oleh kajian ilmiah dan bahwa prediksi‑prediksi sebelumnya tentang AI menggantikan pekerjaan belum terbukti.
Trump menolak seruan para pemimpin teknologi yang mengusulkan pelambatan AI, dengan mengutip pernyataannya di Truth Social, "Orang‑orang yang mengatakan AI akan menghancurkan dunia dan data center buruk bagi lingkungan adalah mereka yang dulu mengklaim dunia akan kiamat karena perubahan iklim," sebagaimana dilaporkan CNN.
Wakil Presiden AS JD Vance juga menyuarakan keraguan terhadap motivasi eksekutif teknologi yang meminta regulasi pemerintah, mengakui adanya risiko nyata AI namun menekankan manfaatnya.
Pandangan resmi Gedung Putih ini berbeda dengan persepsi publik yang semakin skeptis terhadap AI, mengkhawatirkan potensi hilangnya lapangan kerja serta dampak lingkungan akibat peningkatan jumlah data center.