bytedaily
Jumat, 21 Agustus 2026 - 20:42 WIB

Uni Eropa Selidiki Desain Meta yang Diduga Membuat Pengguna Kecanduan, Denda Rp217 T Mengintai

Redaksi 13 Juli 2026 15 views
Uni Eropa Selidiki Desain Meta yang Diduga Membuat Pengguna Kecanduan, Denda Rp217 T Mengintai
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Menurut informasi dari cnnindonesia.com, Komisi Uni Eropa tengah menginvestigasi desain yang diterapkan oleh Facebook dan Instagram, dua platform media sosial milik Meta. Investigasi ini berfokus pada dugaan bahwa fitur-fitur yang ada berpotensi membuat pengguna menjadi kecanduan.

Komisi tersebut mengidentifikasi beberapa fitur, seperti autoplay, infinite scroll, rekomendasi yang dipersonalisasi, dan push notification, sebagai elemen yang dapat berdampak negatif pada kesehatan mental pengguna. Berdasarkan hasil penyelidikan awal, Meta dinilai belum secara memadai mengatasi atau memberikan peringatan kepada pengguna mengenai risiko-risiko tersebut, yang berpotensi melanggar Undang-Undang Layanan Digital (DSA) Uni Eropa.

Temuan ini muncul menyusul adanya keputusan dari dua pengadilan di Amerika Serikat yang menyatakan bahwa Meta secara sengaja membuat pengguna muda kecanduan dan membahayakan mereka. Fenomena ini juga mendorong beberapa negara, termasuk Indonesia dan negara-negara Uni Eropa lainnya, untuk mulai mengambil langkah membatasi akses remaja terhadap media sosial.

Menanggapi hal ini, juru bicara Meta, Ben Walters, menyatakan ketidaksetujuan terhadap temuan tersebut. Ia berpendapat bahwa laporan tersebut tidak secara akurat mencerminkan upaya signifikan yang telah dilakukan Meta untuk melindungi remaja. "Sejak investigasi ini dimulai, kami telah meluncurkan fitur Akun Remaja yang secara otomatis melindungi remaja dan memberikan kendali kepada orang tua, memungkinkan mereka memblokir akses ke Instagram pada malam hari dan membatasi screen time harian hanya 15 menit," ujar Walters dalam sebuah pernyataan.

Meta menegaskan komitmennya untuk menciptakan pengalaman daring yang aman dan positif bagi remaja, serta siap untuk terus berdialog secara konstruktif dengan Komisi Eropa. Meskipun demikian, jika terbukti melanggar regulasi, Meta dapat menghadapi denda hingga 6 persen dari pendapatan globalnya, yang diperkirakan bisa mencapai lebih dari US$12 miliar atau sekitar Rp217 triliun berdasarkan pendapatan tahun lalu.

Laporan komisi menyoroti bahwa Meta dianggap mengabaikan risiko dari fitur autoplay, infinite scroll, dan rekomendasi yang dipersonalisasi, yang dinilai dapat mendorong pengguna untuk terus menggulir layar dan mengondisikan otak ke mode autopilot, sehingga memicu kebiasaan tidak sehat dan penggunaan kompulsif. Selain itu, Meta juga disebut mengabaikan data mengenai durasi waktu yang dihabiskan remaja di aplikasi mereka pada malam hari.

Upaya Meta untuk memitigasi risiko tersebut dinilai belum efektif oleh Komisi Eropa. Pengingat batas waktu penggunaan dianggap mudah diabaikan, sementara fitur pengawasan orang tua dinilai membutuhkan keahlian teknis dan waktu luang yang tidak selalu dimiliki orang tua, sehingga kurang efektif.

Sebuah riset dari New York University dan Northeastern University yang mengevaluasi efektivitas fitur keselamatan remaja di media sosial menemukan bahwa 66 persen fitur di Instagram tidak berfungsi optimal atau sulit ditemukan. Laporan tersebut juga menggarisbawahi kemudahan remaja untuk mengabaikan pengingat batas waktu di Instagram.

Meta, sebagai respons, berdalih bahwa fitur-fitur tersebut dirancang sebagai pengingat, namun keputusan akhir penggunaan aplikasi tetap berada di tangan remaja, meskipun orang tua memiliki kemampuan untuk menetapkan batasan waktu yang ketat. Pengaturan keselamatan Akun Remaja pertama kali diluncurkan oleh Meta pada tahun 2024, setelah bertahun-tahun menerima kritik dari orang tua dan pembuat kebijakan.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.