bytedaily
Senin, 19 Oktober 2026 - 01:11 WIB

Abu Vulkanik Anak Krakatau Dapat Menyebabkan Kerusakan Mesin Pesawat

Redaksi 08 September 2026 4 views
Abu Vulkanik Anak Krakatau Dapat Menyebabkan Kerusakan Mesin Pesawat
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, erupsi Gunung Anak Krakatau mengakibatkan penutupan sejumlah bandara serta pembatalan ratusan penerbangan karena penyebaran abu vulkanik yang berpotensi merusak mesin pesawat.

Ikatan Pilot Indonesia (IPI) menegaskan bahwa paparan abu tersebut menimbulkan risiko kegagalan mesin total pada pesawat yang terbang melalui zona terdampak.

Abu vulkanik bersifat abrasif, mudah mengkristal, dan berukuran sangat halus, sehingga dapat menimbulkan kerusakan pada komponen mesin serta mengancam keselamatan kru dan penumpang.

Direktur Analisis Kecelakaan dan Pencegahan IPI, Teguh Kristiono, menjelaskan bahwa awan abu yang masih segar dalam hitungan jam setelah erupsi dapat menyebabkan kehilangan total daya mesin dalam kurang dari satu menit, terutama pada mesin yang beroperasi pada thrust tinggi karena suhu internalnya lebih mudah melampaui titik leleh material abu.

Secara teknis, partikel abu mengandung mineral silika dengan titik leleh di bawah suhu pembakaran turbin; ketika masuk ke ruang bakar, abu meleleh menjadi cairan kaca yang kemudian mendingin cepat pada bagian turbin yang lebih dingin, menempel, dan mengganggu aliran gas bertekanan tinggi. Hal ini dapat memicu surge atau flame‑out pada mesin.

Ukuran abu yang sangat halus, mencapai sekitar 1 mikron, memungkinkan partikel tersebut menembus hampir semua celah pelindung elektronik, yang dapat menyebabkan korsleting, menyumbat filter aliran udara, mengganggu sensor tekanan, serta menghasilkan data kecepatan dan ketinggian yang tidak akurat.

Sampai kini, Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) belum mengeluarkan definisi kuantitatif mengenai “abu yang terlihat” sebagai panduan penghindaran, sehingga keputusan untuk terbang atau tidak lebih bersifat proses manajemen risiko yang melibatkan regulator dan operator.

Faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam keputusan go/no‑go meliputi keterbatasan radar cuaca dalam mendeteksi awan abu, penetapan area berbahaya, tingkat konsentrasi kontaminasi, serta penilaian keparahan bahaya dan probabilitas paparan.

Pesawat yang telah terpapar abu vulkanik wajib mengikuti prosedur inspeksi sesuai panduan ICAO, termasuk pelaporan wajib, konfirmasi sebelum penerbangan berikutnya, pemeriksaan menyeluruh, dan pelaporan hasil inspeksi kepada otoritas. Pesawat hanya dapat dinyatakan layak terbang setelah semua temuan ditindaklanjuti dan terdokumentasi dalam Safety Management System.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.