bytedaily - Dilansir dari finance.yahoo.com, gelombang besar kecerdasan buatan (AI) berikutnya, yaitu AI agentik, telah tiba. AI agentik memungkinkan sistem AI tidak hanya menghasilkan respons, tetapi juga melakukan tugas yang diberikan secara mandiri berdasarkan instruksi dan pengawasan yang tepat.
AI agentik menjanjikan era 'agentic commerce', di mana agen AI dapat secara otomatis menambahkan barang ke keranjang belanja berdasarkan permintaan pengguna, yang kemudian hanya memerlukan satu klik untuk penyelesaian transaksi. Konsep ini juga membuka potensi pembentukan tenaga kerja virtual yang bekerja berdampingan dengan karyawan manusia.
Meskipun banyak perusahaan mengejar pengembangan AI agentik, terutama di sektor perangkat lunak sebagai layanan (SaaS), cara terbaik untuk memanfaatkan tren ini mungkin terletak pada sisi perangkat keras. Salah satu perusahaan yang dinilai memiliki posisi kuat dalam penyediaan perangkat keras untuk AI agentik adalah Advanced Micro Devices (AMD).
AMD, yang dikenal sebagai pesaing utama Nvidia di pasar unit pemrosesan grafis (GPU), sebenarnya memimpin pasar unit pemrosesan pusat (CPU) untuk pusat data. Posisi ini sangat strategis mengingat kebutuhan CPU berkinerja tinggi akan melonjak seiring dengan perkembangan AI agentik.
Sementara GPU sangat andal untuk melatih model AI dan menjalankan inferensi, kemampuannya dalam bekerja dengan alat lain dan penalaran sekuensial masih terbatas. Di sinilah CPU berperan sebagai 'otak' dari operasi tersebut. Dengan AI agentik, server pusat data akan membutuhkan lebih banyak CPU untuk mengelola semakin banyaknya agen AI yang digunakan.
Baik AMD maupun pesaingnya, Intel, memproyeksikan pergeseran rasio GPU ke CPU di pusat data dari 8:1 menjadi 1:1 dengan kehadiran AI agentik. Pergeseran ini diperkirakan akan memicu lonjakan permintaan CPU yang bahkan mulai melampaui pasokan. Selain itu, AI agentik sangat terbantu oleh CPU dengan inti (core) yang banyak, di mana setiap inti dapat dianggap sebagai 'tempat kerja' terpisah untuk menyelesaikan tugas. Semakin banyak inti pada CPU umumnya berarti harga yang lebih tinggi, sehingga AMD tidak hanya akan diuntungkan dari peningkatan volume penjualan unit, tetapi juga potensi kenaikan harga.
AMD sendiri memperkirakan pasar CPU server akan mencapai USD 120 miliar pada tahun 2030, meningkat dari perkiraan USD 60 miliar yang disampaikan pada November lalu. Dengan permintaan CPU berkinerja tinggi yang baru saja dimulai, AMD dipandang sebagai salah satu cara paling jelas untuk berinvestasi dalam tren AI agentik.
Sumber asli: Artikel ini disadur dari publikasi finance.yahoo.com.