bytedaily - Melansir laporan dari flightglobal.com, pemerintah Amerika Serikat telah memberikan persetujuan untuk kemungkinan penjualan lima helikopter perang angkatan laut Sikorsky MH-60R kepada Selandia Baru. Kesepakatan senilai 2,5 miliar dolar AS melalui program Foreign Military Sales (FMS) ini mencakup helikopter beserta berbagai perlengkapan dan layanan terkait.
Paket penjualan tersebut tidak hanya mencakup sensor dan peralatan untuk perang anti-kapal selam, tetapi juga komponen untuk misi perang permukaan. Di antaranya adalah 225 roket berpemandu BAE Systems Advanced Precision Kill Weapon System (APKWS) dan 65 rudal AGM-114 Hellfire.
Keputusan ini menyusul pengumuman Selandia Baru pada tahun 2025 untuk mengganti helikopter Kaman SH-2G(I) Super Seasprite dengan MH-60R yang lebih canggih. Alokasi dana sebesar NZ$2 miliar (sekitar 1,2 miliar dolar AS) telah disiapkan untuk akuisisi ini.
Departemen Luar Negeri AS menyatakan bahwa penjualan ini akan meningkatkan kemampuan Selandia Baru dalam menghadapi ancaman perang saat ini dan di masa depan, sekaligus memperkuat keamanan infrastruktur kritikal negara tersebut. Selandia Baru diproyeksikan akan menggunakan kapabilitas yang ditingkatkan ini untuk memperkuat pertahanan dalam negerinya dan dipastikan tidak akan mengalami kesulitan dalam mengintegrasikan alutsista dan layanan tersebut ke dalam angkatan bersenjatanya.
Helikopter MH-60R juga telah dioperasikan oleh dua sekutu dekat Selandia Baru, yaitu Australia dan Amerika Serikat. Selain itu, terdapat kesepakatan FMS terpisah untuk 20 torpedo ringan MK54 senilai 69 juta dolar AS, yang merupakan senjata anti-kapal selam utama bagi MH-60R. Senjata ini juga dibawa oleh pesawat patroli maritim Boeing P-8A Poseidon, yang dioperasikan oleh Angkatan Udara Kerajaan Selandia Baru sebanyak empat unit.