bytedaily
Jumat, 16 Oktober 2026 - 17:55 WIB

Analisis BCBSA Soroti AI dan Kenaikan Biaya Penggantian Asuransi Kesehatan

Redaksi 28 September 2026 11 views
Analisis BCBSA Soroti AI dan Kenaikan Biaya Penggantian Asuransi Kesehatan
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Blue Cross Blue Shield Association (BCBSA), asosiasi perusahaan asuransi kesehatan terbesar di Amerika Serikat, menilai penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam pengajuan klaim berkaitan dengan lonjakan tagihan. Sistem tersebut disebut mengelompokkan pasien berdasarkan diagnosis, bukan perawatan yang mereka terima.

Analisis BCBSA mencatat pengeluaran meningkat hampir US$1 juta atau sekitar Rp17,9 miliar dalam kurun dua tahun. Temuan itu juga memperlihatkan ketidaksesuaian antara tingkat keparahan diagnosis yang dicatat dan layanan pengobatan yang diberikan kepada pasien.

Pembayaran asuransi kepada rumah sakit ditentukan antara lain oleh tingkat keparahan diagnosis. Kategori keparahan yang lebih tinggi dapat membuat biaya penggantian yang harus dibayar asuransi meningkat. Sementara itu, menurut BCBSA, sekitar 60 persen sistem rumah sakit menggunakan teknologi berbasis AI untuk membantu mengidentifikasi diagnosis sekunder, misalnya melalui pemindaian hasil laboratorium atau rekam medis elektronik.

Penggunaan teknologi tersebut dapat membuat pasien masuk ke kategori keparahan dan penggantian biaya yang lebih tinggi, meski tidak memperoleh perawatan tambahan. Senior Vice President bidang produk dan ilmu data BCBSA, Luke Chalker, mencontohkan peningkatan diagnosis anemia tanpa kenaikan transfusi yang sepadan. Menurut dia, kesenjangan itu menunjukkan sistem mengidentifikasi lebih banyak kondisi yang dapat ditagihkan, bukan bertambahnya jumlah pasien yang lebih sakit.

BCBSA menyatakan 70 persen dari kenaikan penggantian biaya, atau senilai US$650 juta, pada periode 2023–2025 berasal dari diagnosis sekunder yang menggeser pasien ke kategori penggantian lebih tinggi. Senior Vice President bidang eksternal BCBSA David Merritt mengatakan temuan tersebut memperkuat perlunya pemahaman lebih baik mengenai penggunaan AI, terutama ketika keluarga menghadapi biaya layanan kesehatan yang meningkat.

Menurut laporan itu, dampak ketidaktepatan analisis tidak hanya dirasakan perusahaan asuransi. Kondisi tersebut juga dapat berujung pada kenaikan premi atau biaya yang ditanggung keluarga, pemberi kerja, maupun wajib pajak. The New York Times menyebut temuan BCBSA sebagai indikasi terbaru bahwa AI berkontribusi terhadap kenaikan biaya layanan kesehatan.

Perselisihan rumah sakit dan perusahaan asuransi mengenai perawatan serta pembayaran telah berlangsung lama. Namun, laporan tersebut menyatakan penggunaan AI oleh kedua pihak berpotensi memperburuk keadaan. Pendiri perusahaan rintisan AI Abridge, Shiv Rao, mengingatkan bahwa teknologi ini dapat menciptakan situasi ketika sistem otomatis saling berhadapan, tetapi ia juga menilai AI berpeluang meredakan ketegangan dan menekan biaya. Chalker, seperti dikutip TechCrunch, menggambarkan dampak yang terjadi sebagai kerugian sepihak bagi perusahaan asuransi.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.