bytedaily
Minggu, 18 Oktober 2026 - 02:32 WIB

Analisis Gelombang Laut pada Insiden KM Virgo Transport 8

Redaksi 15 September 2026 14 views
Analisis Gelombang Laut pada Insiden KM Virgo Transport 8
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Widodo Setiyo Pranowo, menjelaskan hasil kajian kondisi gelombang laut pada saat KM Virgo Transport 8 mengalami insiden.

Menurut hasil analisis, permukaan laut di lokasi kejadian memang berombak, namun tinggi gelombang berada pada kategori sedang, tidak termasuk gelombang ekstrem. Tinggi gelombang signifikan tercatat sekitar 1,56 meter dengan periode kira‑kira enam detik, yang menurut klasifikasi keselamatan pelayaran masuk dalam rentang 1,25‑2,50 meter.

Widodo menambahkan bahwa kategori tinggi dimulai pada 2,50 meter dan kategori sangat tinggi pada 4 meter. Sekitar 96 persen tinggi gelombang pada malam kejadian dipicu oleh angin setempat, bukan oleh swell yang datang dari jauh.

Dengan karakteristik gelombang dan periodenya, kecepatan angin permukaan diperkirakan antara 6,4‑8,3 meter per detik (12‑16 knot), setara dengan Beaufort 4‑5. Arah gelombang pada saat itu berasal dari tenggara‑timur, sekitar 122 derajat, sehingga gelombang menyerang kapal dari sisi samping (beam seas).

Kondisi tersebut dapat menyebabkan kapal mengalami gerakan oleng berulang. Analisis dinamika kapal memperkirakan periode gelombang berada pada kisaran 5,66‑6,47 detik, sementara periode alami oleng kapal dengan panjang 119 meter dan lebar 21 meter berada antara 11‑18 detik. Perbedaan ini menunjukkan tidak terjadi resonansi yang memperkuat gerakan oleng.

Dengan data yang ada, kemiringan kapal akibat gelombang diperkirakan sekitar 5,9 derajat pada kondisi umum, dan antara 11,2‑11,9 derajat pada beban gelombang tertinggi. Kontribusi angin terhadap kemiringan diperkirakan kurang dari setengah derajat, masih jauh di bawah ambang 25 derajat yang menjadi indikator awal masuknya air melalui bukaan geladak, serta jauh di bawah 50‑60 derajat yang berhubungan dengan hilangnya kemampuan kapal untuk kembali tegak.

Kajian juga mengidentifikasi bahwa komponen hanyut Stokes yang dihasilkan oleh gelombang menyumbang rata‑rata 41,2 persen dari arus permukaan total. Oleh karena itu, perkiraan hanyut yang tidak memperhitungkan komponen ini dapat menghasilkan lintasan yang berbeda. Arus di lokasi kejadian juga berbalik arah mengikuti siklus pasang surut sekitar 24 jam, yang harus dipertimbangkan dalam pembaruan area pencarian.

Kedalaman laut di titik kejadian diperkirakan sekitar 27 meter, memungkinkan penggunaan multibeam echosounder, side‑scan sonar, remotely operated vehicle (ROV), maupun penyelaman untuk survei bangkai kapal, sesuai prosedur dan kewenangan pihak yang melakukan pencarian serta penyelidikan.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.
Topik Terkait:
#teknologi #maritim #indonesia