bytedaily
Selasa, 18 Agustus 2026 - 04:53 WIB

AS Rencanakan Larangan Impor Perangkat Pusat Data Baru dari China

Redaksi 06 Agustus 2026 11 views
AS Rencanakan Larangan Impor Perangkat Pusat Data Baru dari China
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, pemerintah Amerika Serikat (AS) sedang dalam proses penyusunan kebijakan untuk melarang impor model baru komponen pusat data yang berasal dari China. Kebijakan ini ditujukan untuk memperkuat keamanan infrastruktur yang krusial bagi pengembangan kecerdasan buatan (AI).

Menurut empat sumber yang memiliki informasi mengenai rencana ini, Komisi Komunikasi Federal AS (FCC) tengah mempersiapkan aturan yang akan melarang impor optical transceiver baru dari China. Komponen ini memiliki peran vital dalam memfasilitasi pergerakan data berkecepatan tinggi melalui kabel serat optik di dalam pusat data.

Pejabat AS berharap aturan ini dapat segera diterbitkan dan diberlakukan pada tahun berjalan. Larangan tersebut dirancang untuk mencegah potensi pencurian data, penyisipan perangkat lunak berbahaya, atau gangguan terhadap layanan pusat data di wilayah AS oleh perusahaan-perusahaan China. Pusat data sendiri merupakan lokasi di mana cip yang digunakan untuk melatih dan menjalankan model AI beroperasi.

Meskipun demikian, sumber tersebut juga mengindikasikan bahwa FCC masih memiliki kemungkinan untuk melakukan penyesuaian atau bahkan membatalkan rencana ini. Pakar kebijakan AI, Divyansh Kaushik dari Beacon Global Strategies, menekankan bahwa transceiver dapat menjadi sumber risiko keamanan. Ia berpendapat bahwa seiring dengan peningkatan skala pembangunan pusat data, penting untuk memastikan keamanan rantai pasok sejak awal.

Kabar mengenai rencana larangan ini dilaporkan telah memicu kenaikan saham sejumlah produsen transceiver asal AS, termasuk Lumentum yang naik 7 persen, Coherent yang menguat 11 persen, dan Applied Optoelectronics yang melonjak 18 persen. Pihak Gedung Putih dan FCC sendiri belum memberikan tanggapan resmi terkait permintaan komentar dari Reuters.

Di sisi lain, Kedutaan Besar China di Washington mendesak AS untuk mempertimbangkan pandangan pelaku usaha dari kedua negara, serta menghentikan pencemaran nama baik dan ancaman sanksi terhadap perusahaan China. China menegaskan akan mengambil langkah yang diperlukan jika kepentingannya dirugikan.

Larangan ini diperkirakan akan berdampak signifikan pada Zhongji Innolight, salah satu produsen transceiver terbesar di dunia yang pada bulan Juni lalu masuk dalam daftar perusahaan yang dituding mendapat dukungan militer China oleh Departemen Pertahanan AS. Laporan dari Counterpoint Research menyebutkan Innolight menguasai 27 persen pasar transceiver pusat data global, dengan sekitar 90 persen pendapatannya berasal dari luar China.

Kebijakan ini juga berpotensi meningkatkan biaya operasional bagi perusahaan komputasi awan di AS, seperti Amazon Web Services. Pejabat AS dilaporkan ingin menghindari terulangnya situasi yang mirip dengan kasus Huawei, di mana peralatan telekomunikasi perusahaan China tersebut telah terintegrasi secara luas dalam infrastruktur AS, sehingga proses penanganannya menjadi lambat, mahal, dan belum sepenuhnya terselesaikan.

Sebelumnya, FCC telah menerapkan pembatasan serupa terhadap berbagai produk asal China, termasuk drone, router, robot, dan inverter. Rencana larangan impor transceiver baru ini akan diikuti dengan pemberian pengecualian bagi banyak pemasok dari negara non-China. Pembentukan daftar pembatasan FCC atau 'Covered List' ini merupakan mandat dari Kongres untuk melarang penjualan perangkat baru dari perusahaan asing yang dianggap menimbulkan risiko keamanan nasional.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.