bytedaily
Selasa, 18 Agustus 2026 - 04:54 WIB

Astronom Deteksi Fenomena Instabilitas Kelvin-Helmholtz di Permukaan Matahari

Redaksi 07 Agustus 2026 9 views
Astronom Deteksi Fenomena Instabilitas Kelvin-Helmholtz di Permukaan Matahari
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, para astronom berhasil mengabadikan gambar beresolusi tinggi yang menampilkan permukaan Matahari dengan detail yang belum pernah terlihat sebelumnya. Citra terbaru ini memperlihatkan pola seperti pusaran air yang terbentuk dari gas Matahari yang sangat panas.

Untuk memperoleh gambar revolusioner ini, para peneliti memanfaatkan Teleskop Matahari Daniel K. Inouye milik National Science Foundation AS yang berlokasi di Hawaii. Pengamatan difokuskan pada fotosfer Matahari, lapisan permukaan bintang yang memiliki kedalaman sekitar 100 kilometer dan dapat diamati dari Bumi.

Foto dan video yang dihasilkan menunjukkan pusaran plasma panas yang terus membesar. Plasma, yang merupakan gas pada suhu ekstrem di mana elektron terlepas dari atomnya, membentuk cairan partikel bermuatan. Ukuran pusaran yang teramati bervariasi, dengan diameter mulai dari sekitar 19 kilometer hingga 170 kilometer.

Menurut para peneliti, temuan ini berpotensi memberikan pemahaman mendalam mengenai proses fisika fundamental yang memengaruhi dinamika Matahari dan bintang-bintang lainnya. Pengetahuan ini penting untuk memprediksi dan memahami fenomena seperti letupan Matahari yang dapat berdampak pada satelit, sistem navigasi GPS, jaringan listrik, dan komunikasi global di Bumi.

Pola melingkar dan ikal yang terdeteksi bukanlah hasil dari fenomena acak, melainkan merupakan bukti pertama dari instabilitas Kelvin-Helmholtz (KHI) yang terjadi di permukaan bintang. KHI adalah proses dinamis yang timbul ketika dua aliran fluida atau gas yang bergerak sejajar dengan kecepatan berbeda saling berinteraksi. Batas antara kedua aliran tersebut bisa menjadi tidak stabil dan membentuk pusaran yang membesar seperti gelombang.

Friedrich Woger, seorang astronom di National Solar Observatory NSF, menjelaskan bahwa fenomena serupa telah teramati di Bumi dalam bentuk gelombang dan awan, serta di atmosfer planet raksasa seperti Jupiter dan Saturnus. Namun, di Matahari, interaksi terjadi antara plasma panas bersuhu sekitar 5.450 derajat Celsius dengan medan magnet yang berperan dalam memunculkan instabilitas ini.

Woger menambahkan bahwa KHI di Matahari dapat memicu pelepasan energi yang berujung pada ledakan mendadak. Penemuan ini dianggap sebagai terobosan besar yang dapat membuka cara baru dalam memahami bagaimana Matahari mendistribusikan energinya ke atmosfer.

David Kuridze, astronom dari National Solar Observatory, menyatakan bahwa Matahari dan bintang sejenisnya adalah sistem yang sangat aktif dengan berbagai peristiwa ledakan cepat dalam elemen magnetiknya. Memahami pemicu ledakan ini menjadi fokus utama dalam fisika Matahari modern.

Kemunculan KHI diperkirakan dapat membantu menjelaskan mengapa atmosfer luar Matahari memiliki suhu yang sangat tinggi serta bagaimana energi magnetik terakumulasi dan bergerak di permukaannya. Gerakan memilin yang dihasilkan KHI secara bertahap dapat membangun energi yang cukup untuk memicu pelepasan massa korona dan semburan Matahari.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.