bytedaily
Minggu, 18 Oktober 2026 - 00:19 WIB

Badak Putih Utara Menjelang Kepunahan, Hanya Dua Betina Tersisa di Kenya

Redaksi 16 September 2026 20 views
Badak Putih Utara Menjelang Kepunahan, Hanya Dua Betina Tersisa di Kenya
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, subspesies badak putih utara kini berada pada titik kritis dengan populasi yang hanya mencakup dua ekor betina, yaitu Najin dan anaknya Fatu, yang dipelihara di Ol Pejeta Conservancy, Kenya, di bawah pengawasan bersenjata.

Kedua individu tersebut tidak dapat melahirkan secara alami; sel telur mereka diambil dan diproses di laboratorium untuk dibuahi, kemudian embrio yang dihasilkan ditanamkan pada induk pengganti berupa badak putih selatan.

Menurut Space Daily, konsorsium yang menangani program penyelamatan telah berhasil menghasilkan 39 embrio murni badak putih utara. Hingga April 2026, enam embrio telah dipindahkan ke induk pengganti di Kenya, namun belum ada satupun yang menghasilkan kehamilan yang berlanjut.

Sel telur yang terbaru seluruhnya diambil dari Fatu, yang berusia 26 tahun. Najin lahir pada 11 Juli 1989 di sebuah taman safari di Republik Ceko, sedangkan Fatu lahir pada 29 Juni 2000.

Badak putih utara dulunya tersebar di wilayah barat laut Uganda, selatan Chad, Sudan Selatan, bagian timur Republik Afrika Tengah, serta timur laut Republik Demokratik Kongo. Perburuan untuk cula serta konflik bersenjata di daerah‑daerah tersebut menjadi ancaman utama bagi kelangsungan hidupnya.

Empat ekor terakhir yang hidup di alam bebas pernah terlihat di Taman Nasional Garamba, Republik Demokratik Kongo, pada Agustus 2005, dengan tanda‑tanda keberadaan yang masih terdeteksi hingga 2007. Laporan tak terkonfirmasi tentang tiga ekor di Sudan Selatan pada 2008 tidak dapat dibuktikan oleh survei pada bulan Juni tahun yang sama.

Pada Desember 2009, empat badak putih utara (dua jantan, dua betina) dipindahkan dari Safari Park Dvur Kralove, Republik Ceko, ke Ol Pejeta dengan harapan mereka dapat berkembang biak di habitat yang lebih alami. Salah satu jantan, Suni, meninggal pada Oktober 2014 karena sebab alami, dan jantan lainnya, Sudan, wafat pada 19 Maret 2018 karena usia tua; Sudan juga merupakan ayah Najin dan kakek Fatu.

Diagnosa pada tahun 2014 mengungkapkan bahwa Najin dan Fatu mengalami gangguan serius pada sistem reproduksi, meskipun keduanya pernah terlihat berpasangan di Ol Pejeta. Konsorsium menyatakan bahwa gangguan tersebut kemungkinan telah ada sejak lama sebelum terdeteksi.

Sejak Oktober 2021, Fatu menjadi satu‑satunya donor sel telur dalam program tersebut. Najin dihentikan dari proses pengambilan sel telur setelah tiga prosedur tidak menghasilkan embrio. Hingga Agustus 2025, Fatu telah menjalani 21 kali pengambilan oosit, menghasilkan 38 embrio murni; pengambilan awal 2026 menambah satu embrio sehingga total menjadi 39.

Sel‑sel telur tersebut dimatangkan dan dibuahi di laboratorium Avantea yang berlokasi di Cremona, Italia, sebelum ditanamkan pada induk pengganti badak putih selatan.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.