bytedaily
Sabtu, 17 Oktober 2026 - 22:10 WIB

Layanan DeepSeek Mengalami Gangguan Selama Sekitar Lima Jam

Redaksi 17 Oktober 2026 3 views
Layanan DeepSeek Mengalami Gangguan Selama Sekitar Lima Jam
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir cnnindonesia.com, layanan DeepSeek mengalami gangguan selama sekitar lima jam pada Kamis (15/10). Model V4-Pro, V4.1-Flash, dan layanan chat perusahaan AI asal China itu tidak dapat diakses dari pukul 08.00 hingga 13.00 waktu setempat.

DeepSeek belum menjelaskan penyebab gangguan. Nikkei Asia, seperti dikutip pada Sabtu (17/10), menyebut kekurangan sumber daya komputasi diduga menjadi salah satu faktor.

Pelanggan berbayar mendapat pengembalian dana sebagian untuk periode 8–14 Oktober dalam bentuk kredit yang dapat digunakan untuk layanan berikutnya. Media China melaporkan salah satu contoh pengembalian dana senilai 3.000 yuan atau sekitar Rp8,1 juta, dengan kurs Rp2.698 per yuan.

Gangguan dan perlambatan layanan bukan hal baru bagi DeepSeek. Saat meluncurkan model R1, perusahaan itu menghadapi sejumlah masalah pada Januari dan Februari 2025. DeepSeek mengklaim R1 menawarkan kinerja tinggi dengan biaya rendah, dan peluncurannya sempat diikuti penurunan saham teknologi di berbagai negara.

Pada 2026, gangguan dilaporkan meningkat sejak Juli dan Agustus setelah V4-Flash dan V4-Pro dirilis. Nikkei menilai gangguan pekan ini termasuk yang cukup serius. Lonjakan penggunaan setelah peluncuran V4.1-Flash, model dengan biaya lebih rendah, pada 10 September diduga turut berpengaruh.

Sejumlah media China juga melaporkan adanya ketidakseimbangan antara kapasitas komputasi dan volume penggunaan, serta kendala dalam alokasi daya pemrosesan.

DeepSeek diperkirakan segera menyelesaikan penggalangan dana dari investor luar dengan nilai yang dapat mencapai 100 miliar yuan atau sekitar Rp269,8 triliun. Sejumlah dana investasi China dan perusahaan internet Tencent Holdings disebut termasuk di antara investornya.

Dana tersebut kemungkinan digunakan untuk memenuhi kebutuhan komputasi, termasuk membeli chip. Pasokan chip harus berasal dari produsen dalam negeri karena Amerika Serikat membatasi ekspor semikonduktor AI berkinerja tinggi ke China.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.