bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, populasi badak putih utara kini hanya terdiri dari dua ekor betina, Najin dan anaknya, Fatu, yang berada di Ol Pejeta Conservancy, Kenya, dengan pengamanan bersenjata.
Kedua individu tersebut tidak dapat hamil secara alami; sel telur mereka diambil dan diproses di laboratorium untuk pembuahan in‑vitro, kemudian embrio ditanamkan ke badak putih selatan sebagai induk pengganti.
Menurut Space Daily, konsorsium yang menangani program penyelamatan telah menghasilkan 39 embrio murni badak putih utara hingga awal 2026. Enam embrio telah dipindahkan ke induk pengganti di Kenya, namun belum ada kehamilan yang berhasil hingga kini.
Sel telur yang terakhir diambil berasal dari Fatu, yang berusia 26 tahun. Najin, lahir pada 11 Juli 1989 di sebuah taman safari di Republik Ceko, tidak lagi dipakai dalam program karena tiga prosedur sebelumnya tidak menghasilkan embrio.
Badak putih utara sebelumnya tersebar di wilayah Uganda barat laut, Chad selatan, Sudan Selatan, Republik Afrika Tengah bagian timur, dan Republik Demokratik Kongo timur laut. Perburuan untuk cula dan konflik bersenjata di daerah tersebut menjadi ancaman utama bagi kelangsungan spesies.
Empat ekor terakhir yang hidup liar terakhir terlihat di Taman Nasional Garamba, DRC, pada Agustus 2005. Laporan tak terkonfirmasi tentang tiga ekor di Sudan Selatan pada 2008 tidak dapat dibuktikan oleh survei.
Pada Desember 2009, empat ekor (dua jantan, dua betina) dipindahkan dari Safari Park Dvur Kralove, Ceko, ke Ol Pejeta. Salah satu jantan, Suni, meninggal pada Oktober 2014 karena sebab alami, sementara jantan lainnya, Sudan, wafat pada 19 Maret 2018 karena usia tua; Sudan adalah ayah Najin dan kakek Fatu.
Diagnosa pada 2014 menunjukkan kedua betina mengalami gangguan serius pada sistem reproduksi, meskipun pernah terlihat berpasangan di Ol Pejeta. Fatu tetap menghasilkan oosit; sejak Oktober 2021 ia menjadi satu‑satunya donor sel telur dalam program.
Pengambilan sel telur pertama dari Najin dan Fatu dilakukan pada 22 Agustus 2019. Hingga Agustus 2025, Fatu telah menjalani 21 kali prosedur, menghasilkan 38 embrio murni. Pengambilan pada awal 2026 menambah satu embrio, sehingga total menjadi 39. Sel‑sel tersebut dimatangkan dan dibuahi di laboratorium Avantea, Cremona, Italia.