bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Bank Dunia telah menunjuk mantan Menteri Keuangan Indonesia, Sri Mulyani Indrawati, untuk memimpin proses penggalangan dana ke-22 bagi Asosiasi Pembangunan Internasional (IDA). Peran baru ini menempatkan Sri Mulyani sebagai Ketua Bersama Independen dalam proses pengisian kembali pendanaan IDA.
IDA sendiri merupakan salah satu sumber pendanaan global terbesar yang berfokus pada upaya pengentasan kemiskinan ekstrem di negara-negara berpendapatan rendah. Lembaga ini menyediakan pinjaman tanpa bunga atau dengan bunga rendah, serta hibah untuk mendanai berbagai proyek dan program yang bertujuan mendorong pertumbuhan ekonomi, meningkatkan ketahanan, dan memperbaiki kesejahteraan masyarakat yang hidup dalam kemiskinan.
Dalam kapasitasnya, Sri Mulyani akan bertanggung jawab untuk menggalang dukungan kebijakan dan pendanaan dari berbagai negara. Penunjukannya dilakukan oleh Bank Dunia setelah melalui proses seleksi oleh komite yang terdiri dari perwakilan negara donor dan negara peminjam.
Menurut Bank Dunia, Sri Mulyani dipilih karena dinilai memiliki pengalaman luas dalam pembiayaan pembangunan internasional. Saat ini, ia juga menjabat sebagai Blavatnik World Leaders Fellow 2025-2026 di University of Oxford. Sebelumnya, Sri Mulyani pernah mencatatkan sejarah sebagai perempuan pertama yang menjabat Menteri Keuangan Indonesia dan juga pernah menduduki posisi Managing Director dan Chief Operating Officer di Bank Dunia.
Pengalaman tersebut dianggap memberikan keahlian mendalam dalam kebijakan pembangunan dan pembiayaan multilateral. Bank Dunia juga mengingatkan bahwa Sri Mulyani pernah masuk dalam daftar 100 Perempuan Paling Berpengaruh di Dunia versi Forbes.
Proses penggalangan dana IDA, yang dikenal sebagai replenishment, biasanya diselenggarakan setiap tiga tahun. Siklus IDA22 dijadwalkan akan resmi dimulai pada Mid-Term Review di Tashkent, Uzbekistan, pada Desember 2026, dengan pertemuan penggalangan komitmen pendanaan diperkirakan berlangsung pada Desember 2027. Hasil dari IDA22 akan menentukan besaran pembiayaan konsesional yang akan disalurkan kepada 78 negara hingga tahun 2031. Sejak didirikan pada tahun 1960, IDA telah menyalurkan lebih dari US$632 miliar untuk investasi di 115 negara.