bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Bursa Efek Indonesia (BEI) merespons positif keputusan FTSE Russell, penyedia indeks saham global, yang menunda penyesuaian bobot atau rebalancing dalam indeks saham Indonesia hingga Desember 2026.
Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menyatakan apresiasi atas perlakuan yang diberikan FTSE Russell kepada pasar modal Indonesia. Penundaan ini dianggap sebagai perpanjangan masa monitoring dan observasi terhadap efektivitas reformasi yang telah dilaksanakan oleh BEI.
Jeffrey menjelaskan bahwa FTSE Russell telah mengetahui reformasi transparansi pasar modal Indonesia, termasuk peningkatan dalam transparansi data dan integritas. Ia menambahkan bahwa BEI secara rutin berkomunikasi dan berdiskusi dengan penyedia indeks global untuk memberikan pembaruan.
"Kami akan terus menjalin komunikasi dengan seluruh Global Index Provider untuk menjawab seluruh concern dari Global Investor dan meningkatkan integritas serta governance pasar," ujar Jeffrey dalam keterangan tertulis, Rabu (19/8).
Sejak implementasi empat aksi reformasi transparansi, BEI terus melakukan perbaikan berkelanjutan. Per 15 Juli 2026, BEI telah menambahkan Price Impact Ratio sebagai metodologi untuk menentukan saham yang masuk dalam kategori High Shareholding Concentration (HSC). Hal ini diharapkan dapat meningkatkan aspek tradeability dalam proses replikasi indeks.
Selain itu, BEI juga mempertimbangkan penggabungan informasi afiliasi dengan laporan disclosure pemegang saham di atas 1 persen untuk meningkatkan transparansi bagi pelaku pasar. BEI aktif berdiskusi dengan pelaku pasar untuk mendapatkan masukan terkait reformasi transparansi guna meningkatkan kepercayaan investor.
Keputusan FTSE Russell untuk menunda sejumlah perubahan besar dalam indeks saham Indonesia hingga Desember 2026 diambil sambil menunggu dan memantau efektivitas reformasi pasar modal Indonesia. FTSE Russell mencermati langkah-langkah yang telah diterapkan otoritas pasar Indonesia untuk memperkuat transparansi, seperti penyediaan data kepemilikan saham di atas 1 persen, publikasi daftar HSC, dan peningkatan pelaporan klasifikasi investor.
Dalam pengumumannya, FTSE Russell menyatakan akan menunda perubahan segmen ukuran, kenaikan free float, perubahan Weight Adjustment Factor (WAF), serta penambahan baru termasuk IPO saham Indonesia hingga setidaknya tinjauan indeks Desember 2026.