bytedaily - Melansir laporan dari ekonomi.republika.co.id, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (20/8/2026) terpantau menguat, sejalan dengan pergerakan positif bursa saham di kawasan Asia. Penguatan ini dipicu oleh kebijakan Amerika Serikat (AS) yang meningkatkan nominal buyback obligasi jangka panjangnya. IHSG tercatat dibuka naik 53,12 poin atau 0,83 persen, mencapai level 6.447,25. Sementara itu, Indeks LQ45 yang terdiri dari 45 saham unggulan juga mengalami kenaikan sebesar 5,06 poin atau 0,81 persen, berada di posisi 632,53.
Menurut Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, pergerakan IHSG ke depan akan bergantung pada kemampuannya menembus level 6.490-6.500. Jika gagal, IHSG berpotensi terkoreksi menuju 6.377-6.355, dengan support berikutnya di 6.294-6.286. Namun, jika berhasil melewati 6.500, penguatan lebih lanjut menuju 6.723 dimungkinkan.
Sentimen positif pasar global terutama datang dari pengumuman Departemen Keuangan AS yang akan meningkatkan nominal buyback obligasi jangka panjang menjadi minimal 4 miliar dolar AS per operasi mulai 9 September 2026, naik dari sebelumnya 2 miliar dolar AS. Liza Camelia Suryanata menjelaskan bahwa kebijakan ini mampu meredakan tekanan di pasar obligasi dan memberikan dukungan bagi pasar ekuitas.
Sementara itu, risalah rapat The Fed pada Juli 2026 menunjukkan mayoritas pejabat mendukung mempertahankan suku bunga acuannya. Namun, kekhawatiran terhadap inflasi yang belum menurun membuat beberapa pihak menilai kenaikan suku bunga mungkin diperlukan. Prospek inflasi AS dinilai masih tidak pasti dengan risiko cenderung meningkat.
Di sisi lain, ketegangan antara AS dan Iran terkait Selat Hormuz masih menjadi perhatian, yang berpotensi mengganggu jalur perdagangan energi global.
Dari dalam negeri, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada 18-19 Agustus 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate pada level 5,75 persen. BI juga mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi domestik di kisaran 4,9-5,7 persen untuk tahun 2026, dengan indikasi pertumbuhan yang mulai mengarah ke titik tengah hingga batas atas proyeksi. Stabilitas makroekonomi terjaga, tercermin dari cadangan devisa yang mencapai 145,3 miliar dolar AS.
Pemerintah juga berencana memangkas kuota Bahan Bakar Minyak (BBM) tertentu bersubsidi pada tahun 2027 menjadi 20,09 juta kiloliter (KL), yang merupakan penurunan signifikan dari kuota tahun 2026. Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya pengendalian subsidi energi, dengan asumsi harga minyak mentah Indonesia (ICP) sebesar 75 dolar AS per barel pada 2027. Liza Camelia Suryanata memperkirakan pemangkasan kuota ini dapat memperketat akses masyarakat terhadap BBM bersubsidi dan mendorong peralihan ke BBM nonsubsidi, yang berpotensi meningkatkan biaya transportasi serta menekan daya beli masyarakat.