bytedaily
Kamis, 20 Agustus 2026 - 15:54 WIB

Utang Nasional AS Tembus Rp712 Triliun, Picu Kekhawatiran Ekonomi

Redaksi 20 Agustus 2026 3 views
Utang Nasional AS Tembus Rp712 Triliun, Picu Kekhawatiran Ekonomi
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, beban utang nasional Amerika Serikat (AS) dilaporkan telah mencapai rekor baru sebesar US$40 triliun, atau setara dengan Rp712 triliun dengan kurs Rp17.800 per dolar AS.

Pencapaian angka ini, yang dirilis oleh Departemen Keuangan AS, menandai periode kelam dalam catatan fiskal negara tersebut dan semakin memperdalam jurang utang yang dihadapi.

Menurut informasi dari cnnindonesia.com, para ekonom dan pelaku pasar keuangan menyatakan keprihatinan atas kecepatan penambahan utang ini, terutama mengingat kondisi ekonomi AS yang relatif stabil.

Dalam kurun waktu lima bulan terakhir saja, utang AS telah membengkak hingga US$1 triliun, atau sekitar Rp17.800 triliun.

Michael Peterson, CEO Peter G. Peterson Foundation, memperingatkan bahwa jika tren ini berlanjut, utang AS dapat mencapai US$50 triliun dalam enam tahun ke depan. Ia membandingkan dengan kondisi kurang dari 10 tahun lalu ketika utang AS masih US$20 triliun lebih rendah, dan menekankan bahwa situasi ini membahayakan perekonomian serta masa depan negara.

Lonjakan utang AS dipicu oleh beberapa faktor struktural, termasuk perubahan demografi akibat penuaan populasi. Pensiunnya sekitar 10 ribu generasi Baby Boomers setiap hari memaksa pemerintah mengeluarkan belanja besar untuk program Jaminan Sosial dan Medicare, sementara jumlah tenaga kerja produktif terus berkurang.

Kondisi ini diperparah oleh kebijakan fiskal Kongres AS selama beberapa dekade terakhir yang cenderung menurunkan pajak namun tetap meningkatkan pengeluaran. Contohnya termasuk Tax Cuts and Jobs Act 2017, paket One Big Beautiful Bill 2025 di era Donald Trump, serta stimulus penanganan pandemi Covid-19 di era Trump dan Joe Biden.

Departemen Keuangan AS juga melaporkan defisit anggaran pemerintah mencapai US$1,8 triliun atau Rp32,05 triliun dalam 10 bulan pertama tahun fiskal berjalan.

Tingginya akumulasi utang, ditambah dengan tren suku bunga yang tinggi, telah menyebabkan lonjakan biaya bunga pinjaman. Biaya ini diproyeksikan akan melampaui US$1 triliun atau Rp17,8 triliun dalam setahun.

Marc Goldwein, Direktur Kebijakan Senior Committee for a Responsible Federal Budget (CRFB), menyoroti bahwa beban bunga utang kini melebihi anggaran pertahanan nasional dan program perlindungan anak. Ia menyatakan bahwa lebih banyak dana dihabiskan untuk melunasi utang masa lalu daripada berinvestasi di masa depan, menciptakan lingkaran setan utang yang terus bertambah.

Tekanan dari utang senilai Rp712 triliun ini juga mulai terasa di pasar obligasi, dengan melonjaknya imbal hasil (yield) surat utang pemerintah AS, termasuk US Treasury tenor 30 tahun yang mencapai level tertinggi sejak 2007.

Kenaikan yield ini secara langsung berdampak pada kenaikan suku bunga kredit perumahan, cicilan kendaraan, dan pinjaman modal usaha bagi masyarakat.

Presiden CRFB, Maya MacGuineas, menegaskan bahwa ancaman fiskal ini akan memukul dompet konsumen secara luas. Ia menjelaskan bahwa utang US$40 triliun tidak hanya tercatat di pembukuan pemerintah, tetapi juga dirasakan di seluruh perekonomian dan pada akhirnya akan berdampak pada masyarakat.

MacGuineas menambahkan bahwa peningkatan pinjaman akan memperparah inflasi, mengorbankan prioritas anggaran lainnya, serta membuat AS lebih rentan terhadap keadaan darurat domestik dan gejolak internasional.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.