bytedaily - Menurut laporan dari ekonomi.republika.co.id, Bank Indonesia (BI) memproyeksikan bahwa prospek pertumbuhan ekonomi global masih menunjukkan tren pelemahan. Hal ini disebabkan oleh ketidakpastian yang terus berlanjut dalam aspek geoekonomi dan geopolitik. Salah satu faktor yang memicu kondisi ini adalah intensitas perang di Timur Tengah yang kembali mendorong kenaikan harga minyak dan komoditas dunia. BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2026 hanya akan berkisar di angka 3 persen.
Selain itu, BI juga mencatat bahwa tekanan inflasi global diperkirakan tetap tinggi, mencapai sekitar 4,5 persen pada tahun 2026. Kondisi ini mendorong bank sentral di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, untuk menerapkan kebijakan moneter yang lebih ketat. The Fed diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuannya (Fed Funds Rate) pada kuartal keempat 2026. Kenaikan imbal hasil US Treasury juga diprediksi akan terus berlanjut seiring dengan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan defisit anggaran Amerika Serikat yang masih lebar.
Ketidakpastian di pasar keuangan global ini berdampak pada preferensi investor terhadap investasi portofolio di negara-negara Emerging Markets (EM) dan menyebabkan indeks mata uang dolar AS (DXY dan ADXY) tetap kuat. BI menekankan pentingnya penguatan respons dan sinergi kebijakan fiskal serta moneter untuk memperkuat ketahanan eksternal, menjaga stabilitas, dan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik.
Berbeda dengan proyeksi ekonomi global, BI menilai bahwa kondisi ekonomi domestik Indonesia justru menunjukkan ketahanan yang lebih baik. Hal ini didukung oleh realisasi pertumbuhan ekonomi pada semester I 2026 yang dinilai cukup kuat. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 tercatat sebesar 5,29 persen (yoy), melanjutkan tren positif dari kuartal sebelumnya yang mencapai 5,61 persen (yoy). Pertumbuhan ini banyak ditopang oleh stimulus fiskal yang berdampak positif pada peningkatan konsumsi pemerintah dan investasi.
Konsumsi pemerintah tercatat tumbuh tinggi berkat peningkatan belanja pegawai, termasuk pembayaran gaji ke-13, serta belanja barang dan jasa yang terkait dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Konsumsi rumah tangga juga dinilai tetap baik, meskipun perlu terus didorong untuk memanfaatkan momentum stimulus fiskal yang kuat. Dorongan juga perlu diberikan pada sektor ekspor agar semakin memperkuat struktur pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Ke depan, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tetap baik, didukung oleh implementasi berbagai program stimulus pemerintah dan terjaganya keyakinan pelaku ekonomi. BI akan terus memperkuat bauran kebijakan yang mencakup kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran, yang bersinergi erat dengan kebijakan pemerintah. Tujuannya adalah untuk menjaga stabilitas guna mendorong pertumbuhan ekonomi. BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 berada dalam kisaran 4,9 hingga 5,7 persen.