bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Bank Indonesia mengurangi intervensi di pasar spot untuk menjaga kestabilan rupiah terhadap dolar AS. Porsi intervensi melalui jalur tersebut kini sekitar 30 persen dari keseluruhan intervensi bank sentral.
Gubernur BI Destry Damayanti menjelaskan, intervensi di pasar spot lebih banyak menggunakan cadangan devisa karena dilakukan dengan menjual dolar AS secara langsung. Hal itu disampaikan dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR di Jakarta, Senin (28/9).
BI kini lebih banyak menggunakan instrumen kontrak berjangka valuta asing, yakni domestic non-deliverable forward (DNDF) dan non-deliverable forward (NDF). Menurut Destry, pengembangan kedua instrumen tersebut dinilai lebih efektif untuk menjaga stabilitas nilai tukar, meski tekanan masih dipengaruhi persoalan fundamental dan struktural yang dibahas bersama KSSK, terutama pemerintah dan Kementerian Keuangan.
Destry juga menyampaikan bahwa BI tidak bisa terus mengandalkan intervensi karena pergerakan rupiah dipengaruhi sentimen dari dalam maupun luar negeri. Stabilitas nilai tukar, katanya, perlu ditopang penguatan fundamental ekonomi, khususnya sektor eksternal, melalui program peningkatan ekspor dan investasi, baik investasi langsung maupun portofolio.