bytedaily - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) baru-baru ini merilis prediksi mengenai kemungkinan terjadinya penguatan fenomena El Nino pada tahun 2026. Meskipun ada indikasi penguatan, BMKG menekankan bahwa peluang El Nino mencapai kategori kuat sangat kecil, yaitu di bawah 20 persen.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa pihaknya memproyeksikan potensi perkembangan fenomena El Nino pada paruh kedua tahun ini. Saat ini, kondisi ENSO (El Nino-Southern Oscillation) dan IOD (Indian Ocean Dipole) masih dalam fase Netral hingga akhir Maret 2026. Namun, berbagai pemodelan iklim mengindikasikan kemungkinan ENSO beralih ke fase El Nino pada semester kedua 2026.
Ardhasena menambahkan bahwa prediksi BMKG saat ini menempatkan intensitas El Nino pada kategori lemah hingga moderat dengan probabilitas 50-80 persen. "Kami mencatat adanya kemungkinan kecil (kurang dari 20 persen) fenomena ini berkembang menjadi kategori kuat," ujarnya dalam sebuah keterangan resmi.
BMKG juga mengingatkan agar masyarakat berhati-hati dalam menafsirkan data prediksi saat ini. Hal ini disebabkan oleh fenomena spring predictability barrier, yaitu penurunan drastis akurasi prediksi model cuaca dan iklim terhadap ENSO ketika belahan Bumi utara memasuki periode musim semi (Maret-Mei). Akurasi prediksi yang dihasilkan pada periode Maret-April umumnya hanya dapat diandalkan untuk prakiraan tiga bulan ke depan. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman mendalam mengenai interaksi multi-faktor yang memicu munculnya El Nino dan dampaknya ke wilayah Indonesia.
Tingkat kepercayaan terhadap intensitas El Nino diprediksi akan semakin meningkat pada hasil prediksi bulan Mei 2026. Secara statistik, prediksi pada bulan Mei memiliki keandalan yang lebih baik untuk memprediksi kondisi iklim hingga enam bulan ke depan. Walaupun intensitas pastinya masih dalam pengembangan, BMKG menegaskan bahwa musim kemarau 2026 diperkirakan akan lebih kering dan berlangsung lebih lama dari rata-rata normalnya, sejalan dengan variabilitas iklim alamiah di Indonesia.
Dalam menghadapi potensi ini, BMKG mengimbau masyarakat untuk terus meningkatkan kewaspadaan dan menerapkan langkah-langkah antisipasi yang tepat. Sebelumnya, BMKG telah menginformasikan bahwa musim kemarau 2026 berpotensi dimulai lebih awal dari rata-rata klimatologisnya, dipicu oleh berakhirnya fenomena La Nina Lemah pada Februari 2026 yang telah bergeser ke fase Netral dan berpotensi menuju El Nino pada pertengahan tahun.