bytedaily - Startup kecerdasan buatan (AI) untuk generasi video, Runway, yang awalnya berfokus membantu para pembuat film, kini berambisi untuk menyaingi dominasi Google dalam pengembangan AI. Dilansir dari techcrunch.com, Runway meyakini bahwa bentuk kecerdasan AI berikutnya tidak akan berbasis teks, melainkan dari model video dan model dunia yang mampu mempelajari cara kerja alam semesta, bukan sekadar deskripsi manusia.
Pendiri bersama dan co-CEO Runway, Anastasis Germanidis, menyatakan bahwa melatih model AI secara langsung menggunakan data observasional dari dunia nyata adalah batas terdepan AI saat ini. Ia berpendapat bahwa perusahaan yang pertama kali mencapai terobosan di area ini tidak akan didominasi oleh mereka yang telah menyempurnakan pemrosesan bahasa.
"Model bahasa dilatih pada seluruh internet, pada forum pesan dan media sosial, pada buku teks—menyaring pengetahuan manusia yang ada," jelas Germanidis. "Tetapi untuk melampaui itu, kita perlu memanfaatkan data yang kurang bias."
Didirikan pada tahun 2018, Runway membangun reputasinya melalui model generasi video, termasuk Gen-4.5 terbaru, dan alat AI yang memungkinkan pengguna mengubah perintah teks menjadi konten sinematik yang dapat diedit. Teknologi Runway saat ini mendukung alur kerja produksi bagi para pembuat film dan agensi periklanan, serta telah menjalin kesepakatan dengan pemain media besar seperti Lionsgate dan AMC Networks. Alat-alat mereka bahkan telah digunakan dalam film seperti "Everything Everywhere All At Once".
Runway kini memiliki valuasi sebesar $5,3 miliar. Menurut salah satu pendirinya, perusahaan ini berhasil menambah pendapatan berulang tahunan (ARR) sebesar $40 juta pada kuartal kedua tahun 2026.
Jika prediksi Runway bahwa generasi video adalah jalan menuju model dunia terbukti benar, dampaknya akan terasa luas, mulai dari Hollywood hingga penemuan obat. Namun, jika tidak, Runway berisiko tertinggal oleh pesaing dengan sumber daya yang jauh lebih besar, salah satunya adalah Google.
Dalam enam bulan terakhir, startup ini telah mulai mengimplementasikan rencananya dengan berekspansi melampaui generasi video. Runway meluncurkan model dunia pertamanya pada Desember lalu dan berencana meluncurkan model lainnya tahun ini. Model dunia adalah sistem AI yang mensimulasikan lingkungan dengan cukup baik untuk memprediksi perilakunya.
Runway tidak sendirian dalam upayanya mengembangkan model video yang sadar fisika menjadi model dunia, dengan potensi kasus penggunaan jangka pendek dalam hiburan interaktif, game, dan pelatihan robotik. Startup seperti Luma dan World Labs juga menempuh jalur serupa, dan Google telah mengarahkan model dunianya, Genie, ke arah yang sama.
Germanidis memandang model dunia sebagai infrastruktur ilmiah. "Pada dasarnya, kita terikat oleh pemahaman kita sendiri tentang realitas," ujar Germanidis kepada TechCrunch dari kantor pusat Runway yang nyaman dan penuh cahaya matahari di dekat Union Square.
Sumber asli: Artikel ini disadur dari publikasi techcrunch.com.