bytedaily
Senin, 19 Oktober 2026 - 03:09 WIB

BMKG Catat Petir Vulkanik dan Gangguan Geomagnetik Pasca Erupsi Anak Krakatau

Redaksi 07 September 2026 9 views
BMKG Catat Petir Vulkanik dan Gangguan Geomagnetik Pasca Erupsi Anak Krakatau
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa erupsi Gunung Anak Krakatau pada 6 September menimbulkan fenomena sekunder berupa gangguan geomagnetik serta petir vulkanik.

Menurut Plh. Deputi Bidang Geofisika BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, intensitas gangguan geomagnetik yang diakibatkan oleh petir vulkanik menunjukkan peningkatan, meskipun belum mencapai level setinggi saat letusan pertama. Data sensor yang dipasang di Lampung Selatan dan Serang mencatat fluktuasi geomagnetik yang beriringan dengan peningkatan frekuensi sambaran petir selama 12 jam terakhir.

Proses terbentuknya petir vulkanik memiliki kemiripan dengan petir konvensional yang terjadi di awan Cumulonimbus. Pada umumnya, petir muncul ketika uap air naik, membeku menjadi butiran es, lalu butiran es tersebut berinteraksi dengan partikel lain sehingga terjadi ionisasi. Elektron yang terlepas mengumpul di dasar awan, menciptakan muatan positif di bagian atas dan muatan negatif di bagian bawah, sehingga terbentuk perbedaan tegangan hingga ratusan juta volt yang akhirnya memicu sambaran listrik.

Berbeda dengan petir biasa, petir vulkanik dipicu oleh ionisasi di dalam kolom letusan yang mengandung uap air, abu, debu, dan partikel vulkanik. Suhu tinggi pada erupsi, yang dilaporkan mencapai sekitar 1.227°C, menyebabkan atom‑atom debu netral terionisasi menjadi ion positif dan negatif dalam jumlah besar.

Perbedaan ukuran dan massa partikel dalam abu vulkanik memperkuat pemisahan muatan. Ion negatif yang lebih besar dan berat bergerak lebih lambat dibanding ion positif yang lebih ringan, sehingga tercipta perbedaan potensial listrik. Selain itu, partikel yang lebih berat cenderung jatuh lebih cepat karena gravitasi, dan tumbukan antar partikel (aerodynamic sorting) juga berkontribusi pada proses ionisasi yang menghasilkan petir vulkanik.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.