bytedaily
Senin, 19 Oktober 2026 - 00:10 WIB

BMKG: Hujan Absen di Musim Kemarau Perpanjang Waktu Mengapungnya Abu Vulkanik Anak Krakatau

Redaksi 08 September 2026 6 views
BMKG: Hujan Absen di Musim Kemarau Perpanjang Waktu Mengapungnya Abu Vulkanik Anak Krakatau
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa tidak turunnya hujan pada puncak musim kemarau memperpanjang keberadaan abu vulkanik hasil erupsi Gunung Anak Krakatau di atmosfer.

BMKG menambahkan bahwa abu tersebut bercampur dengan polusi perkotaan, khususnya di wilayah Jakarta.

Dalam unggahan Instagram pada Selasa (8 September), BMKG menjelaskan bahwa ketiadaan hujan menyebabkan partikel berbahaya tersebut tetap melayang lebih lama.

Analisis kualitas udara BMKG untuk periode 1–7 September menunjukkan lonjakan konsentrasi PM2,5 pada 5 September, terutama di Lampung dan Jakarta.

Data menunjukkan nilai PM2,5 pada Senin (7 September) pagi di Pesawaran, Lampung mencapai 30,6 µg/m³, sedangkan di Kemayoran, Jakarta tercatat 25,3 µg/m³. BMKG mencatat tingkat PM2,5 di Jakarta sudah relatif tinggi sebelum tanggal tersebut akibat polusi perkotaan yang biasa.

BMKG menjelaskan bahwa atmosfer Jakarta sejak awal September telah dipenuhi aerosol, yang terlihat dari tren Aerosol Optical Depth (AOD) harian 1–6 September 2026. AOD mengukur ketebalan aerosol tetapi tidak membedakan jenis partikelnya.

Untuk mengidentifikasi masuknya debu vulkanik, BMKG menggunakan parameter Ångström Exponent (AE) yang berkaitan dengan ukuran partikel. Pada pukul 06.00–07.30 WIB, nilai AE berada di titik terendah di bawah 1,0, menandakan dominasi partikel kasar dari erupsi. Nilai AE kemudian naik pada siang hari seiring pengendapan abu dan pencampuran dengan emisi partikel halus kendaraan serta industri.

Distribusi ukuran partikel pada 6 September menunjukkan perubahan pola. Pada 5 September aerosol didominasi partikel halus berdiameter 0,11–0,25 µm, mengindikasikan akumulasi polusi lokal atau aerosol sekunder. Pada 6 September, partikel kecil menurun tajam sementara partikel kasar meningkat, mencapai puncak mingguan pada rentang diameter 3,86–5,06 µm, yang diidentifikasi sebagai abu erupsi.

Pada 7 September, volume partikel aerosol baik halus maupun kasar menurun secara keseluruhan, menandakan proses peluruhan aerosol di atmosfer.

BMKG mengingatkan masyarakat, khususnya di Jakarta, untuk tetap memakai masker ketika berada di luar ruangan karena sisa debu vulkanik masih dapat tercampur dengan polusi perkotaan. BMKG menegaskan agar tidak mengira kabut hanya sebagai polusi biasa karena sebenarnya merupakan 'paparan ganda' yang mengandung material debu vulkanik.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.