bytedaily
Sabtu, 04 Juli 2026 - 00:32 WIB

BMKG Jelaskan Fenomena Hujan di Awal Kemarau Akibat Dinamika Atmosfer

Redaksi 13 Juni 2026 11 views
BMKG Jelaskan Fenomena Hujan di Awal Kemarau Akibat Dinamika Atmosfer
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa meskipun musim kemarau telah dimulai di sebagian wilayah Indonesia, hujan dengan intensitas ringan hingga lebat masih tercatat di beberapa daerah pada awal Juni.

Menurut BMKG, dominasi massa udara kering telah mengurangi kelembapan udara dan membatasi pembentukan awan, terutama pada pagi hingga siang hari. Kondisi atmosfer yang cerah ini mengoptimalkan paparan sinar matahari ke permukaan, yang berkontribusi pada peningkatan suhu udara maksimum di sejumlah wilayah.

Data BMKG menunjukkan bahwa pada periode 4-7 Juni 2026, suhu maksimum di atas 35,0 derajat Celcius dilaporkan terjadi di Aceh, Sumatra Utara, Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, dan Papua Barat. Pada waktu yang sama, hujan lebat tercatat di Sumatra Utara (82,7 mm/hari), Maluku (64,0 mm/hari), Papua Barat (60,0 mm/hari), Kalimantan Barat (58,0 mm/hari), dan Papua (57,0 mm/hari).

BMKG menjelaskan bahwa dinamika atmosfer regional masih berperan dalam pembentukan awan hujan di beberapa wilayah. Analisis menunjukkan adanya aktivitas Gelombang Rossby Ekuatorial di sebagian Sumatra dan Kalimantan bagian selatan, serta Gelombang Kelvin di perairan barat Sumatra Utara hingga Sumatra Barat dan sebagian Sulawesi Utara serta Maluku Utara. Aktivitas gelombang atmosfer ini mendukung pertumbuhan awan hujan dan terjadinya hujan signifikan.

Dari sisi iklim global, indikator ENSO masih menunjukkan kecenderungan fase hangat di Samudra Pasifik tropis bagian tengah dan timur, yang ditandai dengan indeks NiƱo 3.4 sebesar +0,69 dan nilai SOI sebesar -20,3. Kondisi ini berpotensi mengurangi curah hujan di sebagian wilayah Indonesia, namun hujan tetap mungkin terjadi akibat faktor atmosfer regional dan lokal yang masih signifikan.

BMKG juga memprediksi aktivitas MJO (Madden-Julian Oscillation) diperkirakan kurang berpengaruh terhadap wilayah Indonesia hingga pekan depan, karena berada pada fase 8 hingga 1. Namun, sinyal konvektif MJO masih berpotensi bertahan di sebagian wilayah selatan hingga tengah Papua. Selain itu, Gelombang Kelvin diprediksi melintasi sebagian Sumatra Utara dan Sumatra Selatan, sementara Gelombang Rossby Ekuatorial berpotensi aktif di Papua, Maluku, Maluku Utara, Sulawesi, Kalimantan, hingga Jawa.

Lebih lanjut, sirkulasi siklonik yang diperkirakan masih ada di Samudra Pasifik utara Papua dan Samudra Hindia barat Kepulauan Nias berpotensi membentuk daerah konvergensi, konfluensi, dan perlambatan angin. Fenomena ini dapat meningkatkan pertumbuhan awan hujan di wilayah Papua, Kepulauan Nias, sebagian Sumatra Barat, Riau, dan sekitarnya. Kondisi atmosfer yang labil di sejumlah wilayah juga diperkirakan mendukung pertumbuhan awan konvektif secara intensif pada skala lokal.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.