bytedaily
Minggu, 18 Oktober 2026 - 22:03 WIB

BMKG Jelaskan Fenomena Matahari Merah di Medan Akibat Efek Optik Atmosfer

Redaksi 08 September 2026 14 views
BMKG Jelaskan Fenomena Matahari Merah di Medan Akibat Efek Optik Atmosfer
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap bahwa tampilan matahari berwarna merah yang terlihat di Medan pada 6 September merupakan hasil dari fenomena optik atmosfer, bukan perubahan warna matahari secara fisik.

BMKG Sumatera Utara menyatakan bahwa cahaya matahari mengalami hamburan dan penyaringan oleh partikel-partikel di atmosfer, seperti aerosol, debu, dan asap, yang menyebabkan cahaya biru terhambur lebih banyak sehingga warna merah atau jingga menjadi dominan pada mata pengamat.

Efek ini lebih jelas terlihat ketika matahari berada pada posisi rendah, misalnya pada pagi atau sore hari. Pada saat kejadian, BMKG mencatat adanya aerosol yang cukup banyak serta kondisi haze (kabut asap) di wilayah Medan.

Berdasarkan data Automatic Solar Radiation Station (ASRS) dari Stasiun Klimatologi Sumatera Utara, pada 6 September pukul 11.49 WIB intensitas radiasi matahari (Global Horizontal Irradiance) tercatat sebesar 1.099,7 watt per meter persegi, bersamaan dengan suhu udara 32,2 derajat Celsius dan kelembapan 71 persen.

Kondisi tersebut menunjukkan udara yang panas dan lembap, bukan kering. Kehadiran uap air yang cukup bersama partikel aerosol memperkuat proses hamburan cahaya, sehingga menghasilkan warna kemerahan pada matahari.

BMKG menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir terhadap fenomena matahari merah ini, namun bila terjadi penurunan jarak pandang akibat kabut atau asap, publik diimbau tetap memperhatikan kualitas udara serta mengikuti informasi resmi dari BMKG dan lembaga terkait.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.