bytedaily
Senin, 19 Oktober 2026 - 01:12 WIB

BMKG Jelaskan Fenomena Matahari Merah di Medan Sebagai Efek Optik Atmosfer

Redaksi 08 September 2026 3 views
BMKG Jelaskan Fenomena Matahari Merah di Medan Sebagai Efek Optik Atmosfer
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan keterangan terkait tampilan Matahari yang berwarna merah di Kota Medan pada 6 September.

BMKG Sumatera Utara menegaskan bahwa fenomena tersebut merupakan hasil dari efek optik di atmosfer, bukan perubahan warna sebenarnya pada Matahari.

Menurut pernyataan BMKG, cahaya Matahari mengalami proses hamburan dan penyaringan oleh partikel-partikel di atmosfer sebelum mencapai mata pengamat.

Partikel seperti aerosol, debu, dan asap dapat meningkatkan hamburan cahaya biru, sehingga cahaya yang sampai ke mata lebih didominasi oleh warna merah atau jingga.

Efek ini menjadi lebih menonjol ketika posisi Matahari berada rendah, misalnya pada waktu pagi atau sore hari.

Untuk kondisi di Medan, BMKG menduga keberadaan aerosol di atmosfer menjadi faktor yang memperkuat kemerahan tersebut, seiring dengan tercatatnya fenomena haze atau kabut di wilayah tersebut pada sore hingga malam hari.

Data Automatic Solar Radiation Station (ASRS) di Stasiun Klimatologi Sumatera Utara pada 6 September menunjukkan nilai Global Horizontal Irradiance (GHI) tertinggi sebesar 1.099,7 watt per meter persegi (W/m²) pada pukul 11.49 WIB, bersamaan dengan suhu udara 32,2 °C dan kelembapan relatif 71 %.

BMKG menginterpretasikan data tersebut sebagai indikasi udara yang panas dan cukup lembap, bukan kering; kelembapan tinggi menandakan adanya uap air yang bersama partikel aerosol dapat memengaruhi cara cahaya Matahari tersebar.

BMKG juga menjelaskan bahwa GHI merupakan ukuran radiasi Matahari yang memperhitungkan seluruh radiasi yang diterima sensor.

Dalam penutupnya, BMKG mengimbau masyarakat untuk tidak khawatir atas tampilan Matahari merah tersebut, namun tetap memperhatikan kualitas udara dan mengikuti informasi resmi bila kondisi kabut atau berasap mengurangi jarak pandang.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.