bytedaily
Jumat, 03 Juli 2026 - 07:26 WIB

BMKG Jelaskan Potensi Indonesia Terkena Gelombang Panas Seperti Eropa

Redaksi 01 Juli 2026 9 views
BMKG Jelaskan Potensi Indonesia Terkena Gelombang Panas Seperti Eropa
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, gelombang panas parah yang melanda Eropa baru-baru ini, menyebabkan kenaikan suhu ekstrem dan dilaporkan menelan lebih dari 1.300 korban jiwa, memunculkan pertanyaan mengenai kemungkinan fenomena serupa terjadi di Indonesia.

Sekretaris Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, telah menyatakan bahwa gelombang panas kini menjadi kejadian tahunan yang semakin mengkhawatirkan.

Di Indonesia, masyarakat memang merasakan peningkatan suhu udara yang signifikan seiring dengan meluasnya musim kemarau. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat suhu tertinggi mencapai 38,6 derajat Celsius di Papua Barat pada periode 22-24 Juni 2026.

Namun, menurut penjelasan BMKG, Indonesia secara teknis tidak mengalami gelombang panas atau *heatwave*. Fenomena gelombang panas umumnya terjadi di wilayah lintang menengah-tinggi, di mana udara panas terperangkap dalam sistem tekanan tinggi berskala luas, yang ditandai dengan kenaikan suhu jauh di atas rata-rata klimatologis selama beberapa hari berturut-turut. Karakteristik ini tidak ditemukan di Indonesia.

Indonesia, yang berada di wilayah ekuator, memiliki dinamika atmosfer yang berbeda dengan variabilitas cuaca yang cepat. BMKG menegaskan bahwa peningkatan suhu panas di Indonesia yang umum terjadi saat musim kemarau lebih disebabkan oleh cuaca cerah dan minimnya tutupan awan pada siang hari.

Guswanto, Sekretaris Utama BMKG saat menjabat sebagai Deputi Bidang Meteorologi, merinci bahwa syarat terjadinya gelombang panas meliputi kenaikan suhu rata-rata 5 derajat Celsius yang berlangsung selama lima hari berturut-turut.

Merujuk pada Met Office, lembaga meteorologi Inggris, gelombang panas didefinisikan sebagai periode cuaca panas ekstrem yang berlangsung lebih lama dari kondisi normal di suatu wilayah, terkadang disertai kelembapan udara tinggi. Fenomena ini sering terjadi saat musim panas ketika sistem tekanan tinggi yang bergerak lambat berkembang dan bertahan di suatu area.

Pemicu gelombang panas yang melanda Eropa adalah pola cuaca 'Omega Block', di mana udara panas dan kering dari Afrika Utara terperangkap oleh sistem tekanan rendah di kedua sisinya, menyebabkan suhu melonjak hingga 18 derajat Celsius di atas rata-rata musiman. Euronews melaporkan bahwa negara-negara Eropa rentan terhadap kondisi ini karena minimnya penggunaan AC dan desain bangunan yang lebih mengutamakan retensi panas untuk musim dingin.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.