bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa September 2026 tetap berada pada fase kritis terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia, sehingga semua pihak diminta untuk tetap waspada.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengungkapkan bahwa hasil pemantauan menunjukkan tiga faktor utama yang perlu mendapat perhatian bersama, yaitu kondisi kering yang masih mendominasi, tingginya potensi karhutla khususnya di wilayah Sumatera dan Kalimantan, serta terdeteksinya penyebaran asap di beberapa daerah.
Faisal menegaskan bahwa periode September masih merupakan fase kritis yang menuntut kesiapsiagaan kolektif, sebagaimana disampaikan dalam rapat koordinasi penanggulangan karhutla di Jakarta pada Senin (7/9).
Ia juga menjelaskan bahwa fenomena El Nino diperkirakan akan berlangsung hingga awal tahun 2027. Menurut data BMKG, pada dasaran III Agustus, El Nino berada pada intensitas sangat kuat dengan indeks Nino 3.4 mencapai +2.74, yang menandakan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik lebih tinggi dari kondisi normal dan berpotensi menurunkan curah hujan di Indonesia.
BMKG mencatat bahwa sampai awal September, mayoritas wilayah Indonesia masih berada dalam musim kemarau, sementara hujan yang terjadi bersifat lokal dan belum cukup untuk mengatasi kekeringan secara merata.
Analisis BMKG menunjukkan bahwa potensi pembentukan awan hujan pada periode 6‑13 September masih rendah di sebagian besar wilayah, terutama di Jawa, Bali, Nusa Tenggara, bagian selatan Sumatera, serta sebagian Sulawesi dan Papua Selatan.
Faisal menambahkan bahwa peluang hujan alami untuk membantu pemadaman karhutla masih terbatas, dan menyoroti wilayah-wilayah yang perlu mendapat perhatian khusus, meliputi Sumatera Selatan, Riau, Jambi, serta seluruh Kalimantan (Barat, Tengah, Selatan, dan Timur).
BMKG juga melaporkan deteksi penyebaran asap di sejumlah daerah di Sumatera dan Kalimantan yang dapat memengaruhi kualitas udara. Pemantauan konsentrasi partikel halus (PM2.5) menunjukkan peningkatan di lokasi-lokasi terdampak kebakaran.
Faisal menekankan pentingnya memperhatikan dampak kualitas udara terhadap kesehatan masyarakat dan mengingatkan bahwa upaya pengendalian sumber kebakaran harus dilakukan sedini mungkin.
Salah satu langkah yang terus dijalankan untuk mengatasi karhutla adalah operasi modifikasi cuaca (OMC), yang dilaksanakan bersama kementerian terkait, BNPB, BUMN, dan pihak terkait lainnya. Menurut Faisal, OMC tidak hanya bertujuan untuk mitigasi kebakaran, tetapi juga mendukung pengelolaan sumber daya air serta ketahanan pangan nasional, dengan pelaksanaan yang adaptif sesuai kondisi atmosfer masing-masing wilayah.
Menko Polkam Djamari Chaniago dalam rapat tersebut menegaskan bahwa penanggulangan karhutla merupakan tanggung jawab bersama yang harus dijalankan secara konsisten oleh semua pihak, tidak hanya sebagai kewajiban kelembagaan tetapi juga moral, profesional, dan hukum.
Djamari mengingatkan bahwa dampak El Nino yang masih berlangsung dapat memperpanjang kondisi kering di beberapa wilayah, sehingga langkah mitigasi perlu dilakukan secara terukur dengan memanfaatkan informasi dan analisis BMKG.