bytedaily
Jumat, 03 Juli 2026 - 07:26 WIB

BMKG Prediksi Puncak Musim Kemarau Juli 2026 Meluas di Sejumlah Wilayah

Redaksi 01 Juli 2026 5 views
BMKG Prediksi Puncak Musim Kemarau Juli 2026 Meluas di Sejumlah Wilayah
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa pada bulan Juli 2026, sejumlah wilayah di Indonesia akan memasuki puncak musim kemarau. Analisis BMKG pada Dasarian III Juni 2026 menunjukkan bahwa 37,6 persen wilayah Indonesia atau sekitar 263 Zona Musim (ZOM) telah memasuki musim kemarau.

Pada Juli 2026, diperkirakan 12,26 persen wilayah atau 83 ZOM akan mencapai puncak musim kemarau. Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa puncak kemarau di Indonesia akan berlangsung dalam tiga fase, yaitu Juli, Agustus, dan September 2026.

Musim kemarau tahun ini diprediksi akan lebih panjang dari biasanya, dengan durasi yang lebih lama dari normalnya di 57,2 persen wilayah Indonesia. Selain itu, kemarau tahun ini diperkirakan juga akan lebih kering, terutama dengan adanya potensi fenomena El Nino yang diprediksi akan bertahan hingga awal tahun 2027 dengan intensitas moderat hingga kuat.

El Nino berpotensi menyebabkan penurunan curah hujan di wilayah selatan garis khatulistiwa selama puncak musim kemarau. Meskipun El Nino bisa berlangsung selama 9 hingga 12 bulan, yang perlu diwaspadai adalah ketika fenomena ini bertepatan dengan musim kemarau, yang menyebabkan curah hujan lebih sedikit dari kondisi normal. Sektor-sektor terkait perlu meningkatkan kesiapsiagaan pada periode tersebut.

Wilayah yang berpotensi paling terdampak El Nino di tengah musim kemarau meliputi Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sumatra bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi, hingga Papua bagian selatan. Pada periode Juli hingga Oktober 2026, curah hujan di daerah-daerah tersebut diperkirakan berada di bawah rata-rata klimatologis.

Dampak fenomena ini tidak hanya pada sektor pertanian dan ketersediaan air, tetapi juga berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, penurunan kualitas udara, serta gangguan kesehatan masyarakat seperti ISPA dan penyakit akibat paparan suhu panas. Di sektor pangan dan pertanian, BMKG mengingatkan adanya risiko gangguan fase pertumbuhan tanaman, penurunan produktivitas, hingga potensi puso akibat defisit air.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.