bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini mengenai potensi kekeringan meteorologis yang ekstrem di sejumlah wilayah Indonesia pada periode 11-20 Agustus 2026. Kondisi ini dipicu oleh musim kemarau yang bersamaan dengan fenomena El Nino berkategori kuat.
Menurut pemetaan BMKG, peringatan kekeringan dikategorikan menjadi tiga tingkat keparahan: Waspada, Siaga, dan Awas. Pada periode Dasarian II Agustus 2026, beberapa wilayah di delapan provinsi diprediksi masuk dalam kategori Awas.
Analisis BMKG pada Dasarian I Agustus 2026 menunjukkan indeks IOD sebesar +0,457 dan nilai SSTA di region Nino3,4 mencapai +2,77, mengindikasikan intensitas El Nino yang sangat kuat.
Curah hujan pada Dasarian I Agustus 2026 secara umum didominasi oleh kriteria rendah, hanya sekitar 0,93 persen wilayah mengalami curah hujan tinggi, 8,28 persen menengah, dan mayoritas 90,79 persen berada pada kategori rendah.
BMKG melaporkan bahwa sekitar 76,5 persen dari total Zona Musim (ZOM) di Indonesia, yang mencakup 535 ZOM, saat ini sedang mengalami musim kemarau. Dari jumlah tersebut, diperkirakan 48,84 persen wilayah daratan Indonesia akan mencapai puncak musim kemarau pada bulan Agustus.
Salah satu wilayah yang dilaporkan mengalami kekeringan ekstrem adalah Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB). Data BMKG mencatat bahwa hari tanpa hujan di wilayah tersebut telah berlangsung selama 84 hari atau hampir tiga bulan. Khususnya di Kecamatan Belo dan Kecamatan Bolo, tercatat sebagai daerah dengan periode terlama tanpa hujan.
Kondisi curah hujan di NTB pada Dasarian I Agustus 2026 didominasi kategori rendah, berkisar antara 0 hingga 10 milimeter per dasarian, dengan curah hujan tertinggi tercatat di Pos Hujan Kokok Putih, Sembalun, sebesar 47 milimeter per dasarian.
BMKG memperkirakan bahwa kondisi kering ini akan terus berlanjut dalam beberapa pekan mendatang, seiring dengan puncak musim kemarau dan pengaruh kuat dari fenomena El Nino.