bytedaily
Minggu, 18 Oktober 2026 - 21:04 WIB

BMKG Tegaskan September 2026 Masih Fase Kritis Kebakaran Hutan dan Lahan

Redaksi 09 September 2026 4 views
BMKG Tegaskan September 2026 Masih Fase Kritis Kebakaran Hutan dan Lahan
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan bahwa September 2026 masih berada pada periode kritis terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia, sehingga seluruh pemangku kepentingan diminta terus meningkatkan kewaspadaan.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyebut tiga faktor utama yang harus dipantau bersama: kondisi kekeringan yang masih dominan, tingginya potensi karhutla terutama di wilayah Sumatera dan Kalimantan, serta terdeteksinya asap di beberapa daerah.

Faisal menegaskan bahwa fase September ini memerlukan kesiapsiagaan kolektif, mengutip hasil rapat koordinasi penanggulangan karhutla yang dilaksanakan di Jakarta pada Senin, 7 September.

Menurut data BMKG, fenomena El Nino diproyeksikan tetap berlangsung hingga awal 2027. Sampai pertengahan Agustus, indeks Nino 3.4 tercatat +2,74, menandakan suhu permukaan laut Pasifik yang jauh di atas nilai normal dan berpotensi menurunkan curah hujan di Indonesia.

Hingga awal September, mayoritas wilayah Indonesia masih berada dalam musim kemarau, dengan hujan yang terjadi bersifat lokal dan belum mampu mengatasi kekeringan secara luas.

Analisis BMKG menunjukkan potensi pembentukan awan hujan pada 6–13 September relatif rendah di sebagian besar daerah, khususnya Jawa, Bali, Nusa Tenggara, bagian selatan Sumatera, serta sebagian Sulawesi dan Papua Selatan.

Faisal menilai peluang hujan alami untuk membantu pemadaman karhutla masih terbatas, dan menyoroti wilayah yang perlu mendapat perhatian khusus, antara lain Sumatera Selatan, Riau, Jambi, serta semua provinsi Kalimantan (Barat, Tengah, Selatan, dan Timur).

BMKG juga melaporkan terdeteksinya penyebaran asap di beberapa area Sumatera dan Kalimantan, yang dapat memengaruhi kualitas udara. Pemantauan konsentrasi partikel halus (PM2,5) menunjukkan peningkatan di lokasi-lokasi terdampak kebakaran.

Faisal menekankan pentingnya mengendalikan sumber kebakaran sejak dini karena berdampak langsung pada kesehatan masyarakat.

Untuk menanggulangi karhutla, BMKG terus melaksanakan operasi modifikasi cuaca (OMC) bekerja sama dengan Kementerian Pendataan dan Koordinasi Kebijakan, BNPB, BUMN, serta lembaga terkait lainnya. OMC tidak hanya diarahkan pada mitigasi kebakaran, tetapi juga pada pengelolaan sumber daya air dan ketahanan pangan nasional, dengan pelaksanaan yang disesuaikan berdasarkan kondisi atmosfer masing‑masing wilayah.

Menko Politik dan Keamanan Djamari Chaniago menambahkan bahwa penanggulangan karhutla merupakan tanggung jawab bersama yang harus dijalankan secara konsisten, melibatkan aspek kelembagaan, moral, profesional, dan hukum.

Ia mengingatkan bahwa dampak El Nino yang masih berlangsung dapat memperpanjang kondisi kering di sejumlah daerah, sehingga upaya mitigasi harus dilakukan secara terukur dengan memanfaatkan data dan analisis BMKG.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.