bytedaily
Sabtu, 22 Agustus 2026 - 19:53 WIB

Bos Evergrande Hui Ka Yan Divonis Penjara Seumur Hidup dan Asetnya Disita

Redaksi 22 Agustus 2026 1 views
Bos Evergrande Hui Ka Yan Divonis Penjara Seumur Hidup dan Asetnya Disita
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, pendiri perusahaan properti raksasa China, Evergrande Group, Hui Ka Yan, telah dijatuhi hukuman penjara seumur hidup oleh pengadilan China. Selain itu, seluruh aset pribadi taipan berusia 67 tahun tersebut juga diputuskan untuk disita.

Vonis ini dijatuhkan setelah Hui Ka Yan mengakui bersalah atas delapan dakwaan serius yang diajukan padanya pada April 2026. Dakwaan tersebut meliputi penyalahgunaan dana, penipuan dalam penggalangan dana, penghimpunan dana publik secara ilegal, penyaluran pinjaman yang tidak sah, penerbitan sekuritas palsu, hingga kasus penyuapan.

Menurut hakim dalam persidangan, tindakan kriminal yang dilakukan oleh Evergrande Group, Hengda Real Estate, dan Hui Ka Yan melibatkan jumlah dana yang sangat besar, menimbulkan kerugian ekonomi yang signifikan, serta memberikan dampak sosial yang serius, sehingga menuntut hukuman berat.

Selain hukuman penjara bagi Hui, pengadilan juga menjatuhkan denda sebesar 8,82 miliar yuan (sekitar US$1,31 miliar) kepada Evergrande dan 7 miliar yuan kepada anak perusahaan utamanya, Hengda Real Estate. Lima eksekutif senior Evergrande lainnya turut menerima vonis penjara dengan masa hukuman antara enam hingga 18 tahun. Total sebanyak 56 orang yang terkait dengan skandal Evergrande dilaporkan menerima vonis pada hari yang sama.

Sebelum keruntuhan bisnisnya, Hui Ka Yan pernah tercatat sebagai salah satu taipan terkaya di dunia. Didirikan pada tahun 1996, Evergrande berkembang pesat menjadi pengembang properti terbesar di China berdasarkan penjualan kontrak, didorong oleh ekspansi agresif yang didukung oleh utang.

Pada tahun 2017, kekayaan bersih Hui mencapai US$45,3 miliar, menjadikannya orang terkaya di Asia menurut Forbes. Namun, kekayaannya anjlok seiring dengan krisis likuiditas yang melanda Evergrande, yang gagal membayar utangnya yang membengkak hingga sekitar US$300 miliar.

Evergrande telah diperintahkan untuk dilikuidasi oleh Pengadilan Hong Kong pada tahun 2024, dan sahamnya dihapus dari pencatatan Bursa Efek Hong Kong pada tahun 2025. Proses likuidasi perusahaan tersebut dilaporkan berjalan lambat, dengan baru sekitar US$255 juta aset yang terjual hingga Agustus 2025, sementara total klaim kreditur mencapai sekitar US$45 miliar.

Di luar daratan China, likuidator Evergrande masih berupaya membekukan aset Hui dan mantan istrinya di luar negeri untuk menarik kembali sekitar US$6 miliar dalam bentuk dividen dan kompensasi yang sebelumnya telah dibayarkan kepada Hui dan beberapa mantan eksekutif.

Sebelumnya, pada tahun 2024, regulator sekuritas China juga telah menjatuhkan denda sebesar US$6,6 juta kepada Hui dan melarangnya seumur hidup memasuki pasar sekuritas, setelah ditemukan bahwa unit utama Evergrande memanipulasi laporan pendapatan dan melakukan penipuan sekuritas.

Runtuhnya Evergrande pada tahun 2021 dianggap sebagai salah satu pemicu utama krisis di sektor properti China, yang berdampak luas pada investor obligasi global dan perbankan domestik. Kegagalan Evergrande dalam membayar produk manajemen kekayaan juga sempat memicu protes dan kerugian bagi sejumlah investor ritel.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.