bytedaily
Jumat, 28 Agustus 2026 - 13:13 WIB

BRIN Kembangkan Tepung Singkong sebagai Agen Pemadam Kebakaran Hutan dan Lahan

Redaksi 28 Agustus 2026 1 views
BRIN Kembangkan Tepung Singkong sebagai Agen Pemadam Kebakaran Hutan dan Lahan
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah mengembangkan potensi tepung singkong sebagai alternatif yang efektif untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pengembangan ini berfokus pada material retardan berbasis pati singkong yang dikombinasikan dengan senyawa fosfat, guna meningkatkan efisiensi penggunaan air dalam pengendalian kebakaran vegetasi.

Inisiatif ini merupakan tindak lanjut dari persetujuan Presiden Prabowo Subianto terkait penggunaan bahan berbasis tepung singkong sebagai opsi pemadaman karhutla. Julinton, Periset Kimia Molekuler BRIN, menyatakan bahwa pernyataan tersebut didukung oleh dasar ilmiah yang kuat dan dapat dikembangkan lebih lanjut. "Namun, formulasi, efektivitas, keselamatan, dan dampak lingkungannya tetap harus divalidasi melalui pengujian laboratorium dan lapangan secara terukur," ujar Julinton, mengutip situs resmi BRIN.

Menurut Julinton, struktur polisakarida dalam pati singkong memiliki gugus hidroksil yang dapat dimodifikasi untuk mengatur pembentukan film, viskositas, retensi air, serta interaksinya dengan komponen retardan. Pati singkong ini perlu dicampur dengan senyawa lain seperti ammonium polyphosphate (APP), air, dan wetting agent berkonsentrasi rendah. Teknologi yang sedang dikembangkan ini dikenal sebagai CASSA-P atau Singkong-APP.

Julinton menjelaskan mekanisme kerjanya: air berfungsi menyerap panas dan menurunkan temperatur bahan bakar. Pati singkong yang telah dimodifikasi membantu meningkatkan adhesi dan mempertahankan cairan lebih lama pada permukaan vegetasi. Sementara itu, wetting agent membantu cairan menyebar dan menembus bahan bakar vegetasi dengan lebih baik. APP kemudian berperan dalam mekanisme retardasi kimia saat material terpapar panas.

Campuran ini akan membentuk residu karbon padat atau lapisan char yang berfungsi sebagai penghalang perpindahan panas dan massa, serta membatasi kontak langsung antara permukaan bahan bakar dan oksigen. Mekanisme utama Singkong-APP meliputi pendinginan, peningkatan pembasahan dan retensi cairan, serta perubahan jalur dekomposisi termal bahan bakar vegetasi yang dapat menekan laju perambatan api.

Meskipun demikian, teknologi Singkong-APP ini harus tetap terintegrasi dengan personel darat dan sistem pemadaman lainnya. Pada kebakaran berintensitas tinggi, teknologi ini bukan pengganti metode pemadaman yang ada, melainkan berfungsi sebagai pendukung untuk respons awal, pengendalian penyebaran api, perlindungan area strategis, dan pemadaman spot fire.

Julinton menambahkan bahwa komposisi setiap komponen akan dioptimalkan berdasarkan berbagai parameter seperti viskositas, stabilitas penyimpanan, sedimentasi, redispersibilitas, tegangan permukaan, pembentukan droplet, kompatibilitas material, dan kinerja pemadaman. Cairan retardan berbasis pati singkong ini berpotensi untuk aplikasi udara maupun darat.

Petugas pemadam dapat menggunakannya dengan mencampurkan konsentrat atau bahan formulasi ke dalam tangki air sebelum penyemprotan. Konsentrasi optimal masih dalam tahap penelitian untuk memastikan formulasi memiliki kemampuan retensi yang baik tanpa menimbulkan viskositas berlebihan, sedimentasi, atau penyumbatan pada pompa dan nozzle. Formulasi ini dapat disemprotkan pada titik api awal, sisi atau flank kebakaran, spot fire, serta untuk membentuk garis retardan pada vegetasi yang belum terbakar guna memperlambat perambatan api.

Aspek lingkungan tetap menjadi parameter utama dalam penelitian ini. Meskipun pati singkong berasal dari biomassa terbarukan, formulasi akhir harus mempertimbangkan dampak lingkungan secara menyeluruh.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.