bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, sebuah penelitian yang didanai oleh NASA mengindikasikan bahwa peristiwa kuno yang terjadi pada lingkungan Matahari memiliki pengaruh signifikan terhadap iklim di Bumi, bahkan memicu perubahan iklim yang tercatat dalam sejarah planet ini.
Para ilmuwan selama ini telah mengidentifikasi faktor-faktor internal Bumi seperti perubahan orbit, gas rumah kaca, dan lapisan es sebagai penyebab utama fluktuasi iklim. Namun, studi terbaru dari program SHIELD (Solar Wind with Hydrogen Ion charge Exchange and Large-Scale Dynamics) yang merupakan bagian dari pusat sains DRIVE milik NASA, menyoroti adanya faktor eksternal yang berasal dari Matahari.
Penelitian ini menelusuri pergerakan heliosfer, sebuah gelembung pelindung raksasa yang diciptakan oleh aliran angin dan partikel dari Matahari. Diterbitkan dalam jurnal Annual Review of Astronomy and Astrophysics, studi tersebut mengungkapkan bahwa perubahan pada lingkungan yang dilalui heliosfer dapat memicu perubahan iklim di Bumi.
Menurut peneliti utama SHIELD, Merav Opher, dan timnya, Matahari diketahui berinteraksi dengan kumpulan gas dan debu antarbintang yang sangat dingin setidaknya tiga kali dalam jutaan tahun terakhir. Interaksi ini menyebabkan heliosfer tertekan dan menyusut, sehingga Bumi menjadi lebih terekspos pada lingkungan antarbintang.
Paparan terhadap lingkungan antarbintang ini diperkirakan terjadi sekitar 2-3 juta tahun lalu, 6-7 juta tahun lalu, dan 13-14 juta tahun lalu. Simulasi yang dilakukan menunjukkan adanya keselarasan dengan bukti geologis, di mana unsur-unsur yang ditemukan dalam debu antarbintang juga terdeteksi dalam sampel inti sedimen laut dalam, salju Antartika, dan sampel Bulan dari periode waktu yang sama.
Ketika atmosfer Bumi terpapar awan hidrogen galaksi yang padat dan dingin, kandungan uap air di atmosfer meningkat dan dinamika atmosfer bagian atas berubah, yang pada akhirnya memengaruhi kondisi di permukaan Bumi. Temuan ini berpotensi menjelaskan perubahan iklim purba di Bumi, termasuk misteri evolusi, kemungkinan zaman es, serta membantu dalam pencarian sistem bintang lain yang berpotensi layak huni.
Studi lain yang dipublikasikan di Astrophysical Journal Letters oleh Vladimir Airapetian dari Pusat Penerbangan Antariksa Goddard NASA, mencoba menjawab paradoks mengenai bagaimana Bumi dapat tetap hangat di awal sejarahnya ketika Matahari jauh lebih redup. Sekitar tiga miliar tahun lalu, kecerahan Matahari hanya sekitar 70 persen dari kondisi saat ini, yang seharusnya menyebabkan Bumi membeku.
Airapetian berteori bahwa letusan superflare besar yang sering terjadi pada bintang muda mirip Matahari, yang melontarkan partikel berenergi tinggi, mungkin juga terjadi pada Matahari muda. Partikel-partikel ini diyakini memicu reaksi kimia yang menghasilkan pemanasan di Bumi purba. Simulasi yang dilakukan dengan mencampurkan gas-gas atmosfer dan menembakkan proton (meniru serangan partikel superflare) menghasilkan produksi nitrogen oksida, sebuah gas rumah kaca yang jauh lebih kuat daripada karbon dioksida. Meskipun radiasi ultraviolet Matahari dapat mengurainya, keberadaan nitrogen oksida dalam jumlah tertentu diperkirakan mampu menghangatkan Bumi.