bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, para ilmuwan menjelaskan bahwa Bulan secara perlahan menjauh dari Bumi dengan kecepatan sekitar 3,8 sentimeter per tahun, yang merupakan hasil interaksi gravitasi antara kedua benda langit selama jutaan tahun.
Profesor Thomas Djamaluddin, peneliti di Pusat Riset Antariksa BRIN, menyatakan bahwa gaya pasang surut yang dihasilkan oleh gravitasi Bumi memperlambat rotasi Bulan sehingga periode rotasinya terkunci pada 27,3 hari, sama dengan periode revolusinya. Sebaliknya, gaya pasang surut yang diakibatkan oleh Bulan menahan air laut di Bumi, secara bertahap mengurangi kecepatan rotasi planet kita.
Akibat perlambatan rotasi Bumi, panjang satu hari diperkirakan akan bertambah sekitar satu jam setiap 200 juta tahun, sehingga pada masa depan hari di Bumi dapat mencapai 25 jam.
Dosen geofisika Sonni Setiawan dari IPB University menambahkan bahwa variasi jarak Bulan-Bumi juga dipengaruhi oleh bentuk orbit Bulan yang berbentuk elips, sehingga dalam setiap siklus terdapat titik terdekat (perigee) dan titik terjauh (apogee).
Secara jangka panjang, transfer momentum angular dari pasang surut laut ke Bulan menyebabkan Bulan secara bertahap menjauh, namun perubahan 3,8 cm per tahun terlalu kecil untuk dirasakan secara langsung oleh manusia.
Walaupun jarak yang semakin jauh tidak menimbulkan dampak segera, peran Bulan dalam menciptakan pasang surut tetap penting bagi aktivitas pesisir, termasuk nelayan, karena fenomena pasang surut merupakan hasil interaksi gravitasi antara Bumi, Bulan, dan Matahari.