bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, proyek reaktor fusi Experimental Advanced Superconducting Tokamak (EAST) atau yang dijuluki 'Matahari buatan' oleh China, kembali mencetak pencapaian signifikan. Para peneliti berhasil menyelesaikan pengembangan dan pengujian dua komponen krusial reaktor fusi EAST, yaitu dua magnet superkonduktor terbesar di dunia yang secara spesifik dirancang untuk reaktor fusi nuklir. Keberhasilan ini menunjukkan kemandirian China dalam memproduksi 100 persen teknologi inti proyek tersebut secara domestik.
Pengembangan teknologi terobosan ini dilakukan oleh tim peneliti dari Institute of Plasma Physics di bawah naungan Chinese Academy of Sciences (ASIPP) yang berlokasi di Hefei, Provinsi Anhui, China Timur. Salah satu dari dua magnet raksasa tersebut adalah magnet medan toroidal yang berbentuk seperti huruf 'D'. Magnet ini memiliki dimensi yang sangat besar, yaitu panjang 21 meter, lebar 12 meter, tinggi 3,3 meter, dengan bobot total mencapai 528 ton. Menurut Wu Yu, salah satu peneliti di ASIPP, magnet ini berfungsi untuk mengurung plasma agar tetap berada di tengah ruang hampa dan tidak bersentuhan dengan dinding reaktor. Kekuatan medan magnet ini akan menentukan suhu dan kerapatan plasma yang dapat dihasilkan.
Song Zhongping, seorang pakar teknologi elektromagnetik China, menjelaskan bahwa magnet ini berfungsi seperti 'sangkar kokoh dari baja antikarat tebal' yang melindungi bola api plasma yang sangat panas. Tanpa magnet ini, pengendalian plasma akan mustahil dilakukan, yang berarti reaksi fusi nuklir tidak akan dapat terjadi. Direktur ASIPP, Song Yuntao, mengonfirmasi bahwa seluruh material yang digunakan, mulai dari baja khusus, bahan isolasi, hingga bahan superkonduktor, sepenuhnya diproduksi di dalam negeri. Magnet buatan China ini tercatat 1,3 kali lebih besar dan memiliki kapasitas penyimpanan energi tiga kali lipat lebih kuat dibandingkan magnet sejenis yang dikembangkan untuk proyek reaktor internasional ITER, menjadikannya magnet superkonduktor reaktor fusi terbesar di dunia saat ini. Nantinya, 16 magnet serupa akan dirangkai untuk membentuk medan magnet melingkar yang utuh.
Komponen krusial kedua yang berhasil dikembangkan adalah kumparan solenoid pusat. Kumparan ini memiliki fungsi ganda, yaitu memicu plasma hingga membentuk bola api raksasa dan mengendalikan posisinya selama proses berlangsung. Tanpa komponen ini, pembentukan bola api plasma tidak akan terjadi, atau jika terbentuk, akan menjadi tidak terkendali. Data pengujian yang dirilis Global Times menunjukkan bahwa kumparan ini mampu mengalirkan arus listrik secara stabil sebesar 60 kiloampere dan menyimpan energi sebesar 6,03 megajoule, yang membuka peluang untuk reaksi fusi jangka panjang yang stabil guna menghasilkan pasokan energi konsisten. Qin Jinggang, Wakil Direktur ASIPP, menyatakan bahwa arus operasional normal alat ini yang mencapai 46,5 kiloampere merupakan peningkatan signifikan dibandingkan kapasitas EAST sebelumnya. Kinerja kumparan solenoid pusat ini dianggap sebagai penentu utama apakah teknologi 'Matahari buatan' dapat bertransformasi dari eksperimen laboratorium menjadi pembangkit listrik praktis di dunia nyata. Qin Jinggang juga menambahkan bahwa magnet solenoida pusat beroperasi dalam kondisi yang paling kompleks di dalam reaktor, dan kinerjanya secara langsung menentukan keberhasilan penyalaan dan stabilitas perangkat fusi.