bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, kunjungan selama tujuh hari ke Beijing dan Shanghai memperlihatkan sejumlah proyek pembangunan di China. Perjalanan tersebut mencakup Beijing sebagai pusat pemerintahan, politik, dan kebudayaan, serta Shanghai yang menjadi pusat ekonomi dan perdagangan modern.
Salah satu proyek yang dikunjungi berada di Distrik Tongzhou, sekitar 30 kilometer dari pusat Beijing. Kawasan yang sebelumnya dikenal sebagai area kumuh, tempat pembuangan sampah, dan titik kemacetan itu dikembangkan menjadi Beijing Municipal Administrative Center (BMC).
Pembangunan BMC dimulai pada 2016 sebagai bagian dari strategi pengembangan terpadu Beijing-Tianjin-Hebei. Proyek seluas 155 kilometer persegi itu ditujukan untuk mengurangi penumpukan fungsi nonibu kota di pusat Beijing. Investasi awalnya mencapai 120 miliar yuan.
BMC dirancang sebagai kawasan hijau, rendah karbon, cerdas, dan layak huni. Aturannya mencakup kewajiban gedung memenuhi standar green building bintang tiga, penggunaan energi dari angin dan surya, serta ketentuan transportasi yang menggunakan subway. Sejumlah fasilitas telah beroperasi, termasuk layanan publik, kawasan wisata, Universal Studios, serta klaster ekonomi digital dan keuangan modern. Penyelesaian kawasan ditargetkan pada akhir 2026.
Sekitar dua kilometer dari pusat kota baru itu, Beijing City Library dibangun dengan konsep “Hutan Pengetahuan”. Perpustakaan tersebut memiliki dinding kaca setinggi 30 meter dan 200 pilar putih yang menyerupai batang bambu. Atapnya berbentuk daun ginkgo dengan bagian berlubang agar cahaya matahari masuk ke dalam bangunan.
Perpustakaan itu dirancang oleh firma arsitektur asal Norwegia, Snohetta, yang juga merancang Opera House Oslo. Fasilitasnya mencakup layanan peminjaman dan pengembalian buku mandiri, serta meja belajar yang dilengkapi colokan listrik dan akses internet.